“ Selamat
malam pendengar setia nuansa FM, jumpa lagi ya sama Tania! Disini kamu bisa
request sepuas kamu, sampai jam 10 malam nanti. Keep stay on!!”
I
remember the way you glanced at me yes I remember
I
remember when we caught a shooting star yes I remember
Lagu mocca “ I Remember” terus menggema malam itu.
Tania memang sedang bekerja. Dia mempunyai suara dan suasana yang mengesankan.
Dari kecil dulu, memang sudah impiannya menjadi seorang penyiar radio.
Buktinya, dia berhasil meyakinkan semua pendengarnya. Banyak sekali yang
tertarik bertemu dan berbincang dengannya.
“Hallo..!! malam..”
“ Malam mbaakk….”
“Dengan siapa?? Dimana?”
“Rendy mbak dimana-mana.”
Itu kali pertama Rendy on air di radio tempat Tania
bekerja. Sekaligus awal petaka bagi
Tania. Rendy begitu tertarik dengan gaya bicara Tania, cara Tania bercanda.
Sampai akhirnya Rendy menginginkan pertemuan dengan Tania.
Kehidupan Tania memang tidak semujur Rendy. Dia anak
pegawai negeri, sedangkan Tania hanya dari kalangan biasa. Mereka sudah beberapa kali berbincang di
telephon, tapi Tania selalu saja mengelak ketika Rendy ingin mengajaknya
bertemu.
Nampaknya, Rendy mulai suka dengan Tania. Menurut
Rendy, Tania adalah sosok wanita yang pekerja keras, tidak mudah putus asa dan
selalu bersemangat. Memang, Tania adalah
salah satu karyawan wanita yang disegani ditempatnya bekerja. Ia adalah seorang
yang sopan dan apa adanya.
“siang Tan!!
Ngapain nih?? Ganggu gak??” message delievered to Tania 107.6
“Siang juga Ren!! Di lagi dikantor!! Gak ganggu kok…
Cuma ne lagi kerja!! Maaph iyaa,,aku tinggal dulu.” Reply to Rendy J
Setiap hari, pesan masuk dan keluar dari Rendy di ponsel Tania.
Ketika suatu kali Rendy melewati tempat bekerja Tania, ia mampir sejenak
sekaligus punya tujuan memberikan kejutan pada Tania.
“Mungkin Tania akan kaget kalau aku kesini!” kata
Rendy bersemangat
Ia berjalan melewati pos satpam lalu menuju front officenya.
“Selamat siang Mbak!” Rendy menyapa salah seorag
karyawan
“ Selamat siang. Ada yang bisa dibantu Mas?” kata
karyawan ramah
“Saya mau ketemu sama Tania. Ada nggak??” Rendy
tambah bersemangat
“ Ehm…Ehm…Tania, Tania lagi nggak ada jam mas!”
karyawan gugup
“Lho kok bisa nggak ada jam? Harusnya tiap hari kan
ada mbak?” Rendy penasaran
“Memang nggak ada mas!” karyawan meyakinkan
“Ya sudahlah…makasih mbak!” sambil berlalu
meninggalkan karyawan itu
Ketika malam tiba, Rendy sudah ketar ketir kalau
hari ini tidak ada jam untuk Tania.
“Nggak mungkin Tania nggak siaran.” Rendy menggerutu
sendiri
Beberapa saat……
“Selamat malam pendengar setia Nuansa FM. Jumpa
lagi, sama T-A-N-I-A. Yap.. Tania!! Hehe… sepertinya malam ini cerah sekali.
Kamu bisa request sepuas kamu. Dan jangan kemana-mana..tetep di 107.6 Nuansa
FM!”
Rendy terperanjat dari duduknya. Tanpa pikir panjang, Rendy mengambil kunci
motornya. Ia menggeber motornya dengan kecepatan tinggi. Rendy seperti
kesetanan. Setengah jam kemudian, Rendy sampai di tempat bekerja Tania. Ia
menerobos masuk dari kejaran satpam dan karyawan depan. Ia mencari-cari dimana
studio siaran dan yang paling penting adalah TANIA. Yang dipikirannya kali ini
adalah Tania, Tania dan Tania.
Sesaat pandangannya
menangkap seseorang berbicara dibalik ruang bertuliskan “ON AIR” . Ia berusaha menmperjelas pandangannya.
Sepertinya Rendy tidak asing dengan suara itu.
“Mbak..itu Tania kan??” Rendy bertanya pada salah
satu karyawan
“Ehm..ehm.. Gimana ya mas?” karyawan gugup
“kok gimana sih mbak? Mbak tinggal jawab. Iya apa
nggak!” Rendy mulai kesal.
“Ehm… Iya mas!”
Rendy tidak menggunakan otaknya. Ia menerobos pintu
kaca itu. Setelah masuk, ia terpaku di depan pintu. Yang terdengar hanya sayup-sayup lagu Dido White Flag. Lagu yang sering di request
Rendy ketika mendengarkan radio.
“Siapa ya? Nyari siapa mas?” suara lembut menyapa.
Rendy hanya diam terpaku melihat perempuan itu.
“Nyari saya?
Kenalkan Saya Tania” perempuan itu sangat bersemangat
“ Apa??
Tania? Sa…saya, saya Rendy!” Rendy gugup
Waktu seolah berhenti sejenak setelah Rendy menyebut namanya. Betapa kagetnya Tania
mendengar laki-laki itu menyebut nama itu.
“Rendy??” Tania masih tidak percaya
“Oh….silakan duduk. Masa tamu berdiri saja!” Tania
mencoba mencairkan suasana
“Terimakasih!” Rendy masih bingung dengan keadaan
“Ya beginilah ruangan kerja di radio. Apa adanya!
Ehm..mau minum apa? Biar saya pesankan. Mau menunggu saya atau bagaimana? Apa
waktunya terlalu sempit untuk bertemu dengan saya? atau mau bagaimana mas
Rendy? Ooh.. atau begini saja, lain kali bisa lebih longgar waktunya.
Atau….” Tania menggebu
“Cukup….” Rendy memotong perkataan Tania
“Maaf!” kata Tania lirih
“Nanti saja setelah kamu siaran. Aku tunggu di
depan!” Rendy sambil keluar dari ruangan Tania
Setengah jam berlalu…
“Ternyata..waktu emang mepet banget ya!! Nggak
terasa udah beres pekerjaan ku hari ini. Oke pendengar setia Nuansa FM, agaknya
emang udah waktunya kita berpisah. Ini ada satu tembang khusus buat yang lagi
jatuh cinta. Ecoutez Are you Really the
One. Terimakasih dan selamat malam!” Tania menutup pekerjaanya dengan
sukses
Tania, gadis berwajah manis itu mempunyai kata-kata
yang lembut, sopan dan friendly. Tapi
sayang, dia berjalan harus menggunakan tongkat. Bukan untuk kakinya, tapi untuk
matanya. Begitulah, Tania buta!
“Maaf..membuat kamu menunggu!” kata Tania Lembut
“Tidak apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf.
Tidak bilang dulu kalau mau kesini. Aku lancang!” Rendy mencoba menahan
teriakannya.
“Sekarang, sudah tidak penasaran lagi kan? Memang
aku seperti ini. Hehe..!” Tania semangat menjelaskan
“Aku memang sedikit kaget. Tapi, aku sudah pernah
bilang dan janji sama kamu, aku bakal nerima kamu apa adanya. kita tidak
memandang kamu dari fisik atau kekurangan. Aku hanya nyaman dengan kamu.” Rendy
terus meyakinkan.
“Lalu..kenapa kamu kaget? Harusnya kalau sudah siap,
kamu tidak akan sekaget itu.” Wajah Tania mulai musam.
“Karena kamu tidak pernah mau jujur. Harusnya sudah
dari dulu kita bisa bertemu. Tapi kamu selalu menghalangi. Aku nggak mungkin bisa jauh dari kamu. Aku ingin
kita menikah!” Rendy bicara dengan wajah
serius
“Mana mungkin Ren? Aku janda, sudah punya anak.”
jawab Tania tegas
“Apa? Kamu
sudah punya anak? Siapa suami kamu?” Rendy penasara
“aku single parent, Ren!” sambil bersedih
“Aku bakal jagain kamu sama anak kamu!” Rendy
meyakinkan
“Gak Ren… aku harus focus pada anakku. Aku tidak mau
kasih sayang ku terbagi. Aku tidak mau kalau anakku cemburu pada orang lain.
Tolong ngerti aku!” Tania memohon
Tania pergi meninggalkan Rendy, dia sebenarnya
bersedih. Karena dia mulai menyukai Rendy. Tapi, dia memilih focus pada kasih
sayang anaknya. Rendy yang mencoba mengerti Tania, lebih memilih melindungi
Tania sebagai teman. Dan dia juga tidak lupa untuk ikut menjaga anak Tania.
“Rugi banget ya mbak Tania gak mau nikah sama mas
Rendy!” kata salah seorang karyawan
“Ya gimana lagi mbak, kan mbak Tania milih Gilang
anaknya! Tapi, sebenarnya mereka cocok sih!” jawab karyawan lain
Rendy memang sangat menyayangi Tania, karena ia
menilai bukan dari fisik, tapi dari suara. bukan hanya suara yang keluar dari
mulut tetapi juga suara yang keluar dari hati. Walaupun ada sesuatu yang kurang
di tubuh Tania, tapi Tania tetap tampil sempurna.
"Yenni Karti"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar