Daftar Blog Saya

Senin, 03 Desember 2012

NADA SUARAMU



“  Selamat malam pendengar setia nuansa FM, jumpa lagi ya sama Tania! Disini kamu bisa request sepuas kamu, sampai jam 10 malam nanti. Keep stay on!!”

I remember the way you glanced at me yes I remember
I remember when we caught a shooting star yes I remember

Lagu mocca “ I Remember” terus menggema malam itu. Tania memang sedang bekerja. Dia mempunyai suara dan suasana yang mengesankan. Dari kecil dulu, memang sudah impiannya menjadi seorang penyiar radio. Buktinya, dia berhasil meyakinkan semua pendengarnya. Banyak sekali yang tertarik bertemu dan berbincang dengannya.

“Hallo..!! malam..”
“ Malam mbaakk….”
“Dengan siapa?? Dimana?”
“Rendy mbak dimana-mana.”

Itu kali pertama Rendy on air di radio tempat Tania bekerja.  Sekaligus awal petaka bagi Tania. Rendy begitu tertarik dengan gaya bicara Tania, cara Tania bercanda. Sampai akhirnya Rendy menginginkan pertemuan dengan Tania.

Kehidupan Tania memang tidak semujur Rendy. Dia anak pegawai negeri, sedangkan Tania hanya dari kalangan biasa.   Mereka sudah beberapa kali berbincang di telephon, tapi Tania selalu saja mengelak ketika Rendy ingin mengajaknya bertemu.  

Nampaknya, Rendy mulai suka dengan Tania. Menurut Rendy, Tania adalah sosok wanita yang pekerja keras, tidak mudah putus asa dan selalu bersemangat.  Memang, Tania adalah salah satu karyawan wanita yang disegani ditempatnya bekerja. Ia adalah seorang yang sopan dan apa adanya.

siang Tan!! Ngapain nih?? Ganggu gak??” message delievered to Tania 107.6
Siang  juga Ren!! Di lagi dikantor!! Gak ganggu kok… Cuma ne lagi kerja!! Maaph iyaa,,aku tinggal dulu.” Reply to Rendy J

Setiap hari, pesan  masuk dan keluar dari Rendy di ponsel Tania.  

Ketika suatu kali Rendy melewati  tempat bekerja Tania, ia mampir sejenak sekaligus punya tujuan memberikan kejutan pada Tania.

“Mungkin Tania akan kaget kalau aku kesini!” kata Rendy bersemangat
Ia berjalan melewati pos satpam lalu menuju front officenya.
“Selamat siang Mbak!” Rendy menyapa salah seorag karyawan
“ Selamat siang. Ada yang bisa dibantu Mas?” kata karyawan ramah
“Saya mau ketemu sama Tania. Ada nggak??” Rendy tambah bersemangat
“ Ehm…Ehm…Tania, Tania lagi nggak ada jam mas!” karyawan  gugup
“Lho kok bisa nggak ada jam? Harusnya tiap hari kan ada mbak?” Rendy penasaran
“Memang nggak ada mas!” karyawan meyakinkan
“Ya sudahlah…makasih mbak!” sambil berlalu meninggalkan karyawan itu

Ketika malam tiba, Rendy sudah ketar ketir kalau hari ini tidak ada jam untuk Tania.

“Nggak mungkin Tania nggak siaran.” Rendy menggerutu sendiri

Beberapa saat……

“Selamat malam pendengar setia Nuansa FM. Jumpa lagi, sama T-A-N-I-A. Yap.. Tania!! Hehe… sepertinya malam ini cerah sekali. Kamu bisa request sepuas kamu. Dan jangan kemana-mana..tetep di 107.6 Nuansa FM!”
Rendy terperanjat dari duduknya.  Tanpa pikir panjang, Rendy mengambil kunci motornya. Ia menggeber motornya dengan kecepatan tinggi. Rendy seperti kesetanan. Setengah jam kemudian, Rendy sampai di tempat bekerja Tania. Ia menerobos masuk dari kejaran satpam dan karyawan depan. Ia mencari-cari dimana studio siaran dan yang paling penting adalah TANIA. Yang dipikirannya kali ini adalah Tania, Tania dan Tania.

Sesaat pandangannya  menangkap seseorang berbicara dibalik ruang bertuliskan “ON AIR” .  Ia berusaha menmperjelas pandangannya. Sepertinya Rendy tidak asing dengan suara itu.

“Mbak..itu Tania kan??” Rendy bertanya pada salah satu karyawan
“Ehm..ehm.. Gimana ya  mas?” karyawan gugup
“kok gimana sih mbak? Mbak tinggal jawab. Iya apa nggak!” Rendy mulai kesal.
“Ehm… Iya mas!”

Rendy tidak menggunakan otaknya. Ia menerobos pintu kaca itu. Setelah masuk, ia terpaku di depan pintu.  Yang terdengar hanya sayup-sayup lagu Dido White Flag. Lagu yang sering di request Rendy ketika mendengarkan radio.

“Siapa ya? Nyari siapa mas?” suara lembut  menyapa.
Rendy hanya diam terpaku melihat perempuan itu.
“Nyari saya?  Kenalkan Saya Tania” perempuan itu sangat bersemangat
“  Apa?? Tania? Sa…saya, saya Rendy!” Rendy gugup

Waktu seolah berhenti sejenak setelah  Rendy menyebut namanya. Betapa kagetnya Tania mendengar laki-laki itu menyebut nama itu.  

“Rendy??” Tania masih tidak percaya
“Oh….silakan duduk. Masa tamu berdiri saja!” Tania mencoba mencairkan suasana
“Terimakasih!” Rendy masih bingung dengan keadaan
“Ya beginilah ruangan kerja di radio. Apa adanya! Ehm..mau minum apa? Biar saya pesankan. Mau menunggu saya atau bagaimana? Apa waktunya terlalu sempit untuk bertemu dengan saya? atau mau bagaimana mas Rendy? Ooh.. atau begini saja, lain kali bisa lebih longgar waktunya. Atau….”  Tania menggebu
“Cukup….” Rendy memotong perkataan Tania
“Maaf!” kata Tania lirih
“Nanti saja setelah kamu siaran. Aku tunggu di depan!” Rendy sambil keluar dari ruangan Tania

Setengah jam berlalu…

“Ternyata..waktu emang mepet banget ya!! Nggak terasa udah beres pekerjaan ku hari ini. Oke pendengar setia Nuansa FM, agaknya emang udah waktunya kita berpisah. Ini ada satu tembang khusus buat yang lagi jatuh cinta. Ecoutez Are you Really the One. Terimakasih dan selamat malam!” Tania menutup pekerjaanya dengan sukses

Tania, gadis berwajah manis itu mempunyai kata-kata yang lembut, sopan dan friendly. Tapi sayang, dia berjalan harus menggunakan tongkat. Bukan untuk kakinya, tapi untuk matanya. Begitulah, Tania buta!

“Maaf..membuat kamu menunggu!” kata Tania Lembut
“Tidak apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf. Tidak bilang dulu kalau mau kesini. Aku lancang!” Rendy mencoba menahan teriakannya.
“Sekarang, sudah tidak penasaran lagi kan? Memang aku seperti ini. Hehe..!” Tania semangat menjelaskan
“Aku memang sedikit kaget. Tapi, aku sudah pernah bilang dan janji sama kamu, aku bakal nerima kamu apa adanya. kita tidak memandang kamu dari fisik atau kekurangan. Aku hanya nyaman dengan kamu.” Rendy terus meyakinkan.
“Lalu..kenapa kamu kaget? Harusnya kalau sudah siap, kamu tidak akan sekaget itu.” Wajah Tania mulai musam.
“Karena kamu tidak pernah mau jujur. Harusnya sudah dari dulu kita bisa bertemu. Tapi kamu selalu menghalangi.  Aku nggak mungkin bisa jauh dari kamu. Aku ingin kita menikah!”  Rendy bicara dengan wajah serius
“Mana mungkin Ren? Aku janda, sudah punya anak.” jawab Tania tegas
 “Apa? Kamu sudah punya anak? Siapa suami kamu?” Rendy penasara
“aku  single parent, Ren!” sambil bersedih
“Aku bakal jagain kamu sama anak kamu!” Rendy meyakinkan
“Gak Ren… aku harus focus pada anakku. Aku tidak mau kasih sayang ku terbagi. Aku tidak mau kalau anakku cemburu pada orang lain. Tolong ngerti aku!” Tania memohon

Tania pergi meninggalkan Rendy, dia sebenarnya bersedih. Karena dia mulai menyukai Rendy. Tapi, dia memilih focus pada kasih sayang anaknya. Rendy yang mencoba mengerti Tania, lebih memilih melindungi Tania sebagai teman. Dan dia juga tidak lupa untuk ikut menjaga anak Tania.

“Rugi banget ya mbak Tania gak mau nikah sama mas Rendy!” kata salah seorang karyawan
“Ya gimana lagi mbak, kan mbak Tania milih Gilang anaknya! Tapi, sebenarnya mereka cocok sih!” jawab karyawan lain

Rendy memang sangat menyayangi Tania, karena ia menilai bukan dari fisik, tapi dari suara. bukan hanya suara yang keluar dari mulut tetapi juga suara yang keluar dari hati. Walaupun ada sesuatu yang kurang di tubuh Tania, tapi Tania tetap tampil sempurna.



"Yenni Karti"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar