Kalau
saja dia mau menoleh sedikit ke arah jam 12, pasti dia akan menangkap sosok ku.
Tapi, apa mau dikata, dia tidak pernah melihat, bahkan melirik saja tidak
pernah. Padahal, setiap hari pada tempat yang sama, waktu yang sama, dan
kondisi yang saling berkaitan. Kalau di ingat-ingat, memang aku tidak pernah
berbincang dengan dia. Eh…tidak, aku pernah berbincang beberapa kalimat
dengannya.
“Mas,
bisa minta tolong gak?” aku sedikit
nervous
“Kenapa
dek?” dia menjawab
“aku
mau minta music digitalnya donk! Boleh?” aku menggebu
“kalau
besok pagi gimana? Mau pulang nih!”
Memang saat itu sudah
larut, sekitar pukul 23.00! Beginilah kehidupanku, aku bergelut di dunia
seni. Begitu pula dia. Tapi, yang
membedakan, dia memetik gitar dan memukul perkusinya sedangkan aku
mempermainkan kata dan tubuh ku. Kami
berada ditempat yang sama, satu kampus, satu gedung satu pertunjukkan dan lebih
tepatnya lagi satu bidang.
Saat
itu tepat pukul 13.00, aku siap-siap kuliah seni peran, tapi, aku di kagetkan
dengan wajah itu lagi. Seperti orang sakaw,
aku langsung berlari karena aku tidak mampu melihat wajah itu.
“Nis…nis…kamu
kenapa??” teriak Acha
“Gak…..”
jawabku sambil berlari.
“Denis
kenapa?” tanya Agik
“Sepertinya
aku tahu.” Jawab Acha sambil tersenyum
“Memang
kenapa?” Agik penasaran
“Ada
daaaahhh….hehehe.” jawab Acha sambil tertawa lepas
Acha adalah teman baikku. Semua tentang aku,
dari merk shampoo sampai ukuran sepatu, dia tahu. Jadi, dia pasti tahu apa
penyebab aku berlari seperti para rider yang menggeber motornya.
Laki-laki
itu mulai mengusikku ketika aku masih semester 1. Dari sekian banyak laki-laki
di tempat itu, hanya dia yang mampu membuat pandangan ku menjadi fresh. Dia tidak seperfect yang dipikirkan.
Iya… aku mengaguminya, sangat mengaguminya. Namanya Andrian, asli dari Blitar, pawai memetik gitar dan memukul perkusi. Dia mempunyai
tinggi sekitar 165 cm, tidak terlalu tinggi untuk ukuran laki-laki, juga
tidak terlalu tampan untuk dilihat. Karena cukup satu alasan untuk aku
mengaguminya dengan kesederhanaannya,
aku luluh! Aku sendiripun sampai heran, karena sebelumya aku tidak pernah seperti
ini. Biasanya kalau aku mengagumi
seseorang, tidak selebay ini. Kalau sendainya dia tahu. Padahal, tempat
kostnya berhadapan dengan kost ku. tapi kenapa sampai sekarang sulit
menjelaskan dan dijelaskan lewat kata. Beberapa kali berbalas pesan lewat SMS tapi, sampai sekarang apa hasilnya, nonsent.
Malam
itu, aku mulai berlatih dengan teman-teman untuk menggarap satu naskah. Tak disangka dan tak pernah terduga, ternyata
yang jadi music directnya adalah dia.
“Cha,
aku gak salah lihat?” aku bertanya dengan bingung
”Kayaknya
aku juga mau tanya itu deh ke kamu!” jawab Acha
aku
dan Acha sama-sama bingung, karena ada
makhluk itu di tempat latihan.
“Meski
tak seindah yang kau mau, tak sesempurna cinta yang semestinya namun aku
mencitai mu sungguh mencintaimu”
Aku
dengar lirih-lirih lagu Naff Tak seindah
cinta yang semesetinya, dan suara petikan gitarnya. Sepertinya aku mengenal
suara itu. Sesaat aku menoleh kearah panggung, dan… ternyata benar! Langit
senja, dia memaikan gitarnya dengan penuh karisma. Aku memanggilnya seperti
itu. Karena aku merasa, langit senja datang disaat siang hampir berakhir dan
dimulainya malam.
Saat
itulah aku punya keinginan untuk belajar music. Khususnya music petik. Ada
sesuatu yang mendorongku untuk melakukan itu. Aku berusaha untuk bisa, karena
aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk Langit senja ku.
4
bulan setelah aku melihat dia bernyanyi di paggung itu, kini saatnya aku punya kesempatan untuk memainkan gitar ku
diatas panggung. Di acara pensi jurusan. Dengan dan dari kata-kata ku sendiri
aku memainkan gitarku. Penonton sudah mulai memasuki gedung pertunjukkan. Aku
tahu Langit senja ada diantara itu. Karena aku yakin.
”Selamat
malam semua……” MC membuka acaranya
“Ramai
sekali sepertinya… wah..pada gak sabar yyaa. Oke okee..kita tampilkan yang mau
ngedance yaaa! Selamat menyaksikan!”
Penampilan
pertama adalah tari Remo. Aku penampilan kedua. Berarti setelah ini. Aku harus
bersiap dan yakin pada diriku sendiri. Sebelumya aku belum pernah memainkan
gitar diatas panggung sebesar ini.
“Baguss
banget ya tari Remo nya tadi…nah yang satu ini bakal akustikan sendiri..cewek
manis dari anak-anak teater tapi pegang gitar, multitalent banget ya..langsung ajah daahh… ini dia Dennisa dengan Cukup Memandangmu. “
Sepertinya
MC sudah memanggilku, aku harus segera keatas panggung. Dengan sedikit grogi
dicampur takut dan bingung. Karena ini bukan bidang ku. Biasanya aku memainkan
peran, bukan gitar.
“Selamat
malam semua. Ini baru kali pertama aku pegang gitar. Sebuah lagu dari kata dan
tulisan ku sendiri. Untuk Langit senja yang sekarang duduk diantara kalian. Cukup Memandangmu.” aku membuka
penampilan ku dengan sempurna,
Ketika
aku mengatakan kalau langit senja itu ada di sekitar mereka, mereka seakan-akan
mencari siapa dia. Dan aku mulai memetik gitarku.
Itulah
sebabnya
Aku
datang menemui mu
Itulah
tujuanku
Lagu
yang berdendang dari saku ku
Aku
ingin kau juga mendengarkannya
Menaikkan
suara perlahan
Memastikan
lagu ini benar
Oh..selamat
tinggal hari
Aku
tahu bahwa segalanya akan berubah
Sampai
esok hari sangat panjang
Apa
adanya tapi tetap tampan
Bagiku,
itulah sebabnya
La..la..la..
denganmu
Berbagi
dengan mu
Satu
sisi earphone milikku
Perlahan,
saat itulah music mulai didendangkan
Apakah
aku mampu mencintaimu dengan baik?
Karena
terkadang aku menghilang darimu.
Aku
tahu bahwa segalanya akan berubah
Tapi
hatiku tetap baik-baik saja
Jika
aku mampu
Aku
tak mau berpikir tentang kesedihan
Karena
kau selalu menghiburku
Saat
ini dengan senyumanmu
Hai
teman, bagaimana aku mengungkapkannya?
Saat
aku bergumam lagu yang sama
Aku
berharap disampingmu
Aku
gembira melihat kau apa adanya
La…la…denganmu
“Terimakasih…”
aku meninggalkan panggung.
Itu tadi lagu ku, lagu yang aku persembahkan
hanya untuk langit senja ku.
Di
hari itu juga, pukul 22.00, lebih tepatnya setelah acara itu selesai. Aku
keluar dari gedung sambil membawa sesuatu di punggung ku yang berisi gitar.
Ketika sampai di depan motorku, tiba-tiba ada seorang yang menghadangku.
“Apa
benar, langit senja itu aku?” kata orang itu
Aku
belum tahu siapa yang bertanya barusan padaku, karena aku masih menunduk dan
belum sempat mendongakkan kepalaku. Tapi, sepertinya aku mengenal suara itu. aku
melihat dari arah bawah dan aku mengenal cara dia berpakaian, cara dia
menggunakan sepatu, cara dia memainkan style
yang sederhana tapi tetap oke.
“Denis,
apa benar langit senja itu aku?” dia bertanya lagi
Secepatnya
aku melihat wajahnya, dan…itu wajah Mas Andrian. Betapa aku ingin berlari,
berteriak, aku binguung, takut, gugup, tapi aku senang melihat dia menyapaku.
Dan dia bertanya hal itu padaku.
“E…e..ee..
kenapa Mas? Kok tanya gitu?” aku bertanya dengan gugup
“Aku
cuma tanya itu aja..jadi tolong dijawab.” dia memaksa ku
“Maaf mas sebelumnya, aku cuma..aku Cuma…aku lancang
mas. Maaf!!” aku takut
“Kenapa
harus takut Nis? Aku gak apa-apa kalau kamu memang gini.”
“Maaf,
Mas!!” aku masih takut
“Lucu
kalau di ingat-ingat. Hhehe.” kata Andrian sambil membayangkan
“Kok
lucu, kenapa mas?”
“Sebenarnya,
aku sudah tahu, langit senja itu siapa. Dan kamu gak salah, karena dari pertama
aku tahu tentang Langit senja, aku beberapa kali memikirkan kamu. Beneran!” dia
bercerita
Apa??
Dia sudah tahu? Aku serasa di jatuhi kelapa satu truck. Aku kaget sekaget-kagetnya.
Tujuan
ku hanya untuk mengagumi, bukan untuk memiliki. Karena dia hanya Langit senja
yang hanya sementara. Langit senja yang datang setelah siang dan hilang ditelan
malam. Karena dia bukan keabadian.
"Yenni Karti"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar