Daftar Blog Saya

Senin, 03 Desember 2012

KARENA......



Kalau saja dia mau menoleh sedikit ke arah jam 12, pasti dia akan menangkap sosok ku. Tapi, apa mau dikata, dia tidak pernah melihat, bahkan melirik saja tidak pernah. Padahal, setiap hari pada tempat yang sama, waktu yang sama, dan kondisi yang saling berkaitan. Kalau di ingat-ingat, memang aku tidak pernah berbincang dengan dia. Eh…tidak, aku pernah berbincang beberapa kalimat dengannya.

“Mas,  bisa minta tolong gak?” aku sedikit nervous
“Kenapa dek?” dia menjawab
“aku mau minta music digitalnya donk! Boleh?” aku menggebu
“kalau besok pagi gimana? Mau pulang nih!”

Memang saat itu sudah larut, sekitar pukul 23.00! Beginilah kehidupanku, aku bergelut di dunia seni.  Begitu pula dia. Tapi, yang membedakan, dia memetik gitar dan memukul perkusinya sedangkan aku mempermainkan kata dan tubuh ku.  Kami berada ditempat yang sama, satu kampus, satu gedung satu pertunjukkan dan lebih tepatnya lagi satu bidang.
Saat itu tepat pukul 13.00, aku siap-siap kuliah seni peran, tapi, aku di kagetkan dengan wajah itu lagi. Seperti orang sakaw, aku langsung berlari karena aku tidak mampu melihat wajah itu.

“Nis…nis…kamu kenapa??” teriak Acha
“Gak…..” jawabku sambil berlari.
“Denis kenapa?” tanya Agik
“Sepertinya aku tahu.” Jawab Acha sambil tersenyum
“Memang kenapa?” Agik penasaran
“Ada daaaahhh….hehehe.” jawab Acha sambil tertawa lepas
 
 Acha adalah teman baikku. Semua tentang aku, dari merk shampoo sampai ukuran sepatu, dia tahu. Jadi, dia pasti tahu apa penyebab aku berlari seperti para rider  yang menggeber motornya.
Laki-laki itu mulai mengusikku ketika aku masih semester 1. Dari sekian banyak laki-laki di tempat itu, hanya dia yang mampu membuat pandangan ku menjadi fresh. Dia tidak seperfect yang dipikirkan.  Iya… aku mengaguminya, sangat mengaguminya. Namanya Andrian,  asli dari Blitar,  pawai memetik gitar dan memukul perkusi.  Dia mempunyai  tinggi sekitar 165 cm, tidak terlalu tinggi untuk ukuran laki-laki, juga tidak terlalu tampan untuk dilihat. Karena cukup satu alasan untuk aku mengaguminya  dengan kesederhanaannya, aku luluh! Aku sendiripun sampai heran, karena sebelumya aku tidak pernah seperti ini.  Biasanya kalau aku mengagumi seseorang, tidak selebay  ini. Kalau sendainya dia tahu. Padahal, tempat kostnya berhadapan dengan kost ku. tapi kenapa sampai sekarang sulit menjelaskan dan dijelaskan lewat kata. Beberapa kali berbalas pesan lewat SMS tapi, sampai sekarang apa hasilnya, nonsent.
Malam itu, aku mulai berlatih dengan teman-teman untuk menggarap satu naskah. Tak disangka dan tak pernah terduga, ternyata yang jadi music directnya adalah dia.

“Cha, aku gak salah lihat?” aku bertanya dengan bingung
”Kayaknya aku juga mau tanya itu deh ke kamu!” jawab Acha

aku dan Acha sama-sama bingung, karena ada makhluk itu di tempat latihan.

“Meski tak seindah yang kau mau, tak sesempurna cinta yang semestinya namun aku mencitai mu sungguh mencintaimu”

Aku dengar lirih-lirih lagu Naff Tak seindah cinta yang semesetinya, dan suara petikan gitarnya. Sepertinya aku mengenal suara itu. Sesaat aku menoleh kearah panggung, dan… ternyata benar! Langit senja, dia memaikan gitarnya dengan penuh karisma. Aku memanggilnya seperti itu. Karena aku merasa, langit senja datang disaat siang hampir berakhir dan dimulainya malam.
Saat itulah aku punya keinginan untuk belajar music. Khususnya music petik. Ada sesuatu yang mendorongku untuk melakukan itu. Aku berusaha untuk bisa, karena aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk Langit senja ku.
4 bulan setelah aku melihat dia bernyanyi di paggung itu, kini saatnya aku  punya kesempatan untuk memainkan gitar ku diatas panggung. Di acara pensi jurusan. Dengan dan dari kata-kata ku sendiri aku memainkan gitarku. Penonton sudah mulai memasuki gedung pertunjukkan. Aku tahu Langit senja ada diantara itu. Karena aku yakin.

”Selamat malam semua……” MC membuka acaranya
“Ramai sekali sepertinya… wah..pada gak sabar yyaa. Oke okee..kita tampilkan yang mau ngedance yaaa! Selamat menyaksikan!”
Penampilan pertama adalah tari Remo. Aku penampilan kedua. Berarti setelah ini. Aku harus bersiap dan yakin pada diriku sendiri. Sebelumya aku belum pernah memainkan gitar diatas panggung sebesar ini.

“Baguss banget ya tari Remo nya tadi…nah yang satu ini bakal akustikan sendiri..cewek manis dari anak-anak teater tapi pegang gitar, multitalent banget ya..langsung ajah daahh… ini dia Dennisa dengan Cukup Memandangmu.

Sepertinya MC sudah memanggilku, aku harus segera keatas panggung. Dengan sedikit grogi dicampur takut dan bingung. Karena ini bukan bidang ku. Biasanya aku memainkan peran, bukan gitar.

“Selamat malam semua. Ini baru kali pertama aku pegang gitar. Sebuah lagu dari kata dan tulisan ku sendiri. Untuk Langit senja yang sekarang duduk diantara kalian. Cukup Memandangmu.” aku membuka penampilan ku dengan sempurna,

Ketika aku mengatakan kalau langit senja itu ada di sekitar mereka, mereka seakan-akan mencari siapa dia. Dan aku mulai memetik gitarku.

Itulah sebabnya
Aku datang menemui mu
Itulah tujuanku
Lagu yang berdendang dari saku ku
Aku ingin kau juga mendengarkannya
Menaikkan suara perlahan
Memastikan lagu ini benar
Oh..selamat tinggal hari
Aku tahu bahwa segalanya akan berubah
Sampai esok hari sangat panjang
Apa adanya tapi tetap tampan
Bagiku, itulah sebabnya
La..la..la.. denganmu
Berbagi dengan mu
Satu sisi earphone milikku
Perlahan, saat itulah music mulai didendangkan
Apakah aku mampu mencintaimu dengan baik?
Karena terkadang aku menghilang darimu.
Aku tahu bahwa segalanya akan berubah
Tapi hatiku tetap baik-baik saja
Jika aku mampu
Aku tak mau berpikir tentang kesedihan
Karena kau selalu menghiburku
Saat ini dengan senyumanmu
Hai teman, bagaimana aku mengungkapkannya?
Saat aku bergumam lagu yang sama
Aku berharap disampingmu
Aku gembira melihat kau apa adanya
La…la…denganmu

“Terimakasih…” aku meninggalkan panggung.

Itu  tadi lagu ku, lagu yang aku persembahkan hanya untuk langit senja ku. 
Di hari itu juga, pukul 22.00, lebih tepatnya setelah acara itu selesai. Aku keluar dari gedung sambil membawa sesuatu di punggung ku yang berisi gitar. Ketika sampai di depan motorku, tiba-tiba ada seorang yang menghadangku.

“Apa benar, langit senja itu aku?” kata orang itu

Aku belum tahu siapa yang bertanya barusan padaku, karena aku masih menunduk dan belum sempat mendongakkan kepalaku. Tapi, sepertinya aku mengenal suara itu. aku melihat dari arah bawah dan aku mengenal cara dia berpakaian, cara dia menggunakan sepatu, cara dia memainkan style yang sederhana tapi tetap oke.

“Denis, apa benar langit senja itu aku?” dia bertanya lagi

Secepatnya aku melihat wajahnya, dan…itu wajah Mas Andrian. Betapa aku ingin berlari, berteriak, aku binguung, takut, gugup, tapi aku senang melihat dia menyapaku. Dan dia bertanya hal itu padaku.
“E…e..ee.. kenapa Mas? Kok tanya gitu?” aku bertanya dengan gugup
“Aku cuma tanya itu aja..jadi tolong dijawab.” dia memaksa ku
“Maaf  mas sebelumnya, aku cuma..aku Cuma…aku lancang mas. Maaf!!” aku takut
“Kenapa harus takut Nis? Aku gak apa-apa kalau kamu memang gini.”
“Maaf, Mas!!” aku masih takut
“Lucu kalau di ingat-ingat. Hhehe.” kata Andrian sambil membayangkan
“Kok lucu, kenapa mas?”
“Sebenarnya, aku sudah tahu, langit senja itu siapa. Dan kamu gak salah, karena dari pertama aku tahu tentang Langit senja, aku beberapa kali memikirkan kamu. Beneran!” dia bercerita

Apa?? Dia sudah tahu? Aku serasa di jatuhi kelapa satu truck. Aku kaget sekaget-kagetnya.
Tujuan ku hanya untuk mengagumi, bukan untuk memiliki. Karena dia hanya Langit senja yang hanya sementara. Langit senja yang datang setelah siang dan hilang ditelan malam. Karena dia bukan keabadian.

"Yenni Karti"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar