Daftar Blog Saya

Senin, 03 Desember 2012

KOMEDI KEHIDUPAN



Ketika sore datang, aku hanya berdiam di teras rumah. Dengan hisapan rokok yang senantiasa menemani.  Saat itu, aku berangan  tentang bayang-bayang masa lalu ku.  Benar kata orang, masa sekolah adalah masa yang paling bahagia. Dimana aku bisa bersuka sepuasku, bersama orang-orang terdekat ku.

Juwita….yah itulah nama ku. Aku lahir dengan orang tua yang super. Orang tua ku menguasai kota pahlawan ini.  Papa ku mempunyai banyak perusahaan besar. Mama ku hanya ongkang-ongkang kaki dirumah tapi tidak pernah memperdulikan anak-anaknya. Mama ku selalu menghabiskan badget yang bagiku luar biasa. Tapi, untung saja aku punya papa, yang paling tidak mau bertanya pada anak-anaknya. Aku anak kedua sekaligus anak terakhir.  Kakak laki-laki ku sudah bekerja ikut papa di perusahaan.

“ Duduk lah kawan, mari kita mengingat kejadian apa yang kita alami dulu.” aku memulai pembicaraan
“sangat banyak sekali,Ta!” temanku ikut berangan

Dulu, aku bersekolah di salah satu SMA elit di Surabaya.  Memang, aku hidup tanpa kekurangan.  Banyak orang mendekati hanya karena lipatan dompetku. Tapi, itulah kelemahan ku. Aku tak bisa membedakan, mana yang tulus dan mana yang hanya tipuan.  Aku berusaha mengingat siapa saja yang ada di kehidupan ku dulu.

Kali pertama aku bertemu dengan Desy, teman sebangku ku. Aku kagum pada dia, karena secara materi, dia tidak sama dengan teman-temannya. Karena disini dia hanya mengandalkan beasiswa. Bukan hanya itu aku kagum dengan dia, karena dia tidak sedikitpun mempunyai rasa minder.

“ Nama kamu siapa? Aku Desy!”
“  Aku juwita. Panggil saja aku Wita.”

Kami memulai perkenalan yang luar biasa. Kami duduk dibangku yang sama. Tertawa dan pergi bersama-sama.

Masa sekolah memang benar-benar membuat ku hanyut.  Dan ketika aku terlena dengan julukan kembang sekolah , aku hanya bisa tebar pesona tanpa memperdulikan efek sampingnya. Semua lawan jenis yang mendekati, selalu aku terima dengan senang hati. Asal aku bisa senang-senang dan tertawa.

“Ta, kamu tidak boleh seperti ini terus-terusan. Harus bagaimana memberitahumu?”
“Kenapa sih Des? Aku ingin menikmati hidup.”
“Oke.. aku tahu kamu ingin bersenang-senang, tapi tidak begini.”

Desy sudah berkali-kali  mengingatkan ku, tapi memang  aku yang keras kepala. Aku hanya mementingkan kesenangan ku.  Kehidupan ku aku buat sendiri menjadi surga dunia, surga yang seolah-olah menjadi abadi. Menjadi segala-galanya untuk dinikmati.

            Akhir  sekolah, aku mempersiapkan segala sesuatu tentang ujian. Kesibukan ku tersita dengan ujian. Aku melepaskannya, aku melepaskan surga dunia ku.  Banyak teman-teman yang ingin memberikan semangatnya padaku.

“Juwita, nilai kamu semakin bagus. Teruslah belajar ya, Nak!” Guru Bahasa Indonesia ku memberikan selamat.
“Terimakasih, Bu! Ini berkat Ibu juga kok!”

            Tepat di malam sebelum ujian nasional, entah setan apa yang merasuki semua mantan kekasihku. Mereka tiba-tiba mendatangiku. Aku diperkosa secara bergantian.

            “Tolong…tolong…jangaaaaannn… aku tidak mau!”  aku berteriak sekencangnya

Mereka tidak peduli dengan jeritan ku.  Sakit… sakit sekali. Aku serasa seperti sampah. Ku hanya bisa menangis.
           
            Aku tidak mengikuti ujian nasional. Aku tidak sanggup untuk datang ke sekolah. Yah.. pagi itu aku pergi dari rumah. Aku yakin, orang rumah tidak akan mencari ku. sambil membawa sobekan kertas, tempat nomer ponsel Desy tertulis.  Aku berjalan di gang-gang sempit. Aku berjalan ditempat yang tidak akau kenal. Di suatu siang aku duduk untuk istirahat. Karena perjalanan ku sudah cukup jauh. Ada seorang wanita mendekati ku.
           
Aku menerima tawaran itu. Aku pun berangkat ke Bandung.  Disana aku dikejutkan dengan suasana yang tenang dan nyaman. Aku meyakinkan diri untuk betah disana.

            Aku mulai menikmati pekerjaan ku yang sekarang.  Aku mencoba menerima. Memang, senja ini aku duduk bersama Desy. Sahabat lama ku. karena hanya dia yang mau datang kesini. Walaupun bukan untuk aku, tapi untuk studinya. Desy kuliah di Bandung. Ia menerima beasiswa lagi.
            Sore ini, aku duduk dengan hisapan rokok yang setiap hari menemani ku. tak terasa sudah 5 batang aku habiskan. Bergurau dengan Desy memang membuatku ingat dan rindu dengan kota ku. Kota kehidupan ku dulu. Tapi, mau apa lagi. Sekarang aku harus menjalani hidupku.

            Saat adzan maghrib telah usai, Desy aku persilahkan untuk meninggalkan ku. Karena aku harus melaksanakan tugasku. Sebenarnya, aku duduk diteras ini, bukan tanpa tujuan. Di teras ini, aku menunggu pelanggan ku. pelanggan yang senantiasa menikmati tubuhku. Inilah aku sekarang, aku seorang yang dibayar demi kenikmatan konsumen-konsumen ku.

Suatu malam, ada laki-laki yang akan menawar rekan kerja ku. Tapi, ada apa dengan perasaan ku. aku  penasaran dengan laki-laki itu.  Sepertinya aku mengenalnya. Aku tidak asing dengan wajah dan tingkah polahnya.

“Kak Chandra…..” aku memanggilnya

Dan betapa kagetnya aku, dia menoleh. Dia kak Chandra, kakak kandung ku. ada apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa dengan keluargaku? Kenapa kak Chandra disini? Ribuan pertanyaan-pertanyaan menyerang ku. kenapa kenapa dan kenapa?

“Iya…siapa??” jawab kak Chandra sambil mendekati ku

Aku seolah-olah ingin berlari, aku tidak ingin kak Chandra tahu aku disini. Dia bertambah dekat, dan semakin dekat jarak kami.

“Sepertinya kita pernah bertemu ya?” tanya kak Chandra
“E..e..iya, kita selalu bertemu! Kak Chaaaan…masih ingat siapa aku?” tanyaku lirih
“Ta…kamu Wita?? Kamu Juwita? Ini kamu,Ta?”

Rasa tidak percaya kak Chandra sangat besar. Dia tidak percaya adiknya akan berdiri disini, ditempat ini. Tempat yang dianggap sampah. Tempah yang dianggap terlalu menjijikkan untuk orang. Aku memeluk kak Chandra, aku tidak bisa menahan air mataku. Aku menangis, merasa bersalah.

“Kakak kenapa disini? Baju kakak kenapa? Mana jam tangan? Mana sepatu kulitnya?” aku bertanya menggebu
“Kenapa kamu pakai tanktop kecil ini. Mana celana panjang kamu? Kenapa pakai hot pan? Dimana pakaian lengkap mu deekk?” kak Chandra memaksa ku menjawab

Aku hanya bisa mbrabak. Aku tidak bisa berkata pa-apa saat kak Chandra tanya hal itu. aku seperti manusia paling bersalah di dunia ini.

“Mana Papa sama Mama, Kak? Dimana mereka? Aku kangen sama mereka,Kak!” sambil menangis
“Kakak mau minum apa, ayo masuk ke dalam. Kenapa kakak diam?? Jawab kak!! Tolong jawab pertanyaan ku.” aku memohon
“Ta…ayo kita pergi dari sini. Ikut kakak ya..jangan disini lagi.” Kak Chandra ikut menangis
“Kakak cerita dulu, kenapa sama mama papa?”
“Mama…mama sudah gak ada di dunia ini, Ta!” kata kak Chandra lirih
“Apa kak?? Mama sudah meninggal? Gak mungkin, Kak! Aku keluar rumah baru setahun. Gak mungkin..gak mungkin…” aku tidak percaya
“Papa kenapa gak ikut kakak? Mana papa kak?” aku penasaran
“Papa di Rumah Sakit Menur, Ta!” kata kak Chandra sambil sedikit menjerit

Aku langsung pingsan ketika mendengar hal itu terlontar dari kak Chandra. Rumah Sakit Menur adalah Rumah Sakit Jiwa di Surabaya. Papa harus dirawat disana. Kata kak Chandra, mama meninggal dan papa masuk RSJ, karena memikirkan aku. Aku salah menduga, karena aku berpikir, aku tidak akan dicari orang rumah. Sementara kak Chandra disini bekerja sebagai kuli. Dia mencari ku dari kota ke kota, dan akhirnya mendapatkan info dari Desy, kalau aku di Bandung.

Setelah kejadian itu, aku hidup dengan kakak ku. Walaupun, aku hidup dengan kakak ku sendiri, tapi aku harus tetap bekerja. Kerja sebagai pelayan toko saja tidk cukup untuk hidup di kota sebesar ini. Aku masih melanjutkan pekerjaan ku yang dulu. Meski pun tidak boleh dengan kak Chandra, tapi aku harus membantu kak Chandra mencari uang untuk biaya papa di Surabaya.




 "Yenni Karti"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar