Ketika
sore datang, aku hanya berdiam di teras rumah. Dengan hisapan rokok yang
senantiasa menemani. Saat itu, aku
berangan tentang bayang-bayang masa lalu
ku. Benar kata orang, masa sekolah
adalah masa yang paling bahagia. Dimana aku bisa bersuka sepuasku, bersama
orang-orang terdekat ku.
Juwita….yah
itulah nama ku. Aku lahir dengan orang tua yang super. Orang tua ku menguasai
kota pahlawan ini. Papa ku mempunyai
banyak perusahaan besar. Mama ku hanya ongkang-ongkang kaki dirumah tapi tidak
pernah memperdulikan anak-anaknya. Mama ku selalu menghabiskan badget yang
bagiku luar biasa. Tapi, untung saja aku punya papa, yang paling tidak mau
bertanya pada anak-anaknya. Aku anak kedua sekaligus anak terakhir. Kakak laki-laki ku sudah bekerja ikut papa di
perusahaan.
“
Duduk lah kawan, mari kita mengingat kejadian apa yang kita alami dulu.” aku
memulai pembicaraan
“sangat
banyak sekali,Ta!” temanku ikut berangan
Dulu,
aku bersekolah di salah satu SMA elit di Surabaya. Memang, aku hidup tanpa kekurangan. Banyak orang mendekati hanya karena lipatan
dompetku. Tapi, itulah kelemahan ku. Aku tak bisa membedakan, mana yang tulus
dan mana yang hanya tipuan. Aku berusaha
mengingat siapa saja yang ada di kehidupan ku dulu.
Kali
pertama aku bertemu dengan Desy, teman sebangku ku. Aku kagum pada dia, karena
secara materi, dia tidak sama dengan teman-temannya. Karena disini dia hanya
mengandalkan beasiswa. Bukan hanya itu aku kagum dengan dia, karena dia tidak sedikitpun
mempunyai rasa minder.
“
Nama kamu siapa? Aku Desy!”
“ Aku juwita. Panggil saja aku Wita.”
Kami memulai perkenalan
yang luar biasa. Kami duduk dibangku yang sama. Tertawa dan pergi bersama-sama.
Masa
sekolah memang benar-benar membuat ku hanyut.
Dan ketika aku terlena dengan julukan kembang sekolah , aku hanya bisa tebar pesona tanpa memperdulikan
efek sampingnya. Semua lawan jenis yang mendekati, selalu aku terima dengan
senang hati. Asal aku bisa senang-senang dan tertawa.
“Ta,
kamu tidak boleh seperti ini terus-terusan. Harus bagaimana memberitahumu?”
“Kenapa
sih Des? Aku ingin menikmati hidup.”
“Oke..
aku tahu kamu ingin bersenang-senang, tapi tidak begini.”
Desy sudah
berkali-kali mengingatkan ku, tapi
memang aku yang keras kepala. Aku hanya
mementingkan kesenangan ku. Kehidupan ku
aku buat sendiri menjadi surga dunia, surga yang seolah-olah menjadi abadi.
Menjadi segala-galanya untuk dinikmati.
Akhir sekolah, aku
mempersiapkan segala sesuatu tentang ujian. Kesibukan ku tersita dengan ujian.
Aku melepaskannya, aku melepaskan surga dunia ku. Banyak teman-teman yang ingin memberikan
semangatnya padaku.
“Juwita,
nilai kamu semakin bagus. Teruslah belajar ya, Nak!” Guru Bahasa Indonesia ku memberikan
selamat.
“Terimakasih,
Bu! Ini berkat Ibu juga kok!”
Tepat di malam sebelum ujian nasional, entah setan apa
yang merasuki semua mantan kekasihku. Mereka tiba-tiba mendatangiku. Aku
diperkosa secara bergantian.
“Tolong…tolong…jangaaaaannn… aku tidak mau!” aku berteriak sekencangnya
Mereka tidak peduli
dengan jeritan ku. Sakit… sakit sekali.
Aku serasa seperti sampah. Ku hanya bisa menangis.
Aku tidak mengikuti ujian nasional. Aku tidak sanggup
untuk datang ke sekolah. Yah.. pagi itu aku pergi dari rumah. Aku yakin, orang
rumah tidak akan mencari ku. sambil membawa sobekan kertas, tempat nomer ponsel
Desy tertulis. Aku berjalan di gang-gang
sempit. Aku berjalan ditempat yang tidak akau kenal. Di suatu siang aku duduk
untuk istirahat. Karena perjalanan ku sudah cukup jauh. Ada seorang wanita
mendekati ku.
Aku
menerima tawaran itu. Aku pun berangkat ke Bandung. Disana aku dikejutkan dengan suasana yang
tenang dan nyaman. Aku meyakinkan diri untuk betah disana.
Aku mulai menikmati pekerjaan ku yang sekarang. Aku mencoba menerima. Memang, senja ini aku
duduk bersama Desy. Sahabat lama ku. karena hanya dia yang mau datang kesini.
Walaupun bukan untuk aku, tapi untuk studinya. Desy kuliah di Bandung. Ia
menerima beasiswa lagi.
Sore ini, aku duduk dengan hisapan rokok yang setiap hari
menemani ku. tak terasa sudah 5 batang aku habiskan. Bergurau dengan Desy
memang membuatku ingat dan rindu dengan kota ku. Kota kehidupan ku dulu. Tapi,
mau apa lagi. Sekarang aku harus menjalani hidupku.
Saat adzan maghrib telah usai, Desy aku persilahkan untuk
meninggalkan ku. Karena aku harus melaksanakan tugasku. Sebenarnya, aku duduk
diteras ini, bukan tanpa tujuan. Di teras ini, aku menunggu pelanggan ku.
pelanggan yang senantiasa menikmati tubuhku. Inilah aku sekarang, aku seorang
yang dibayar demi kenikmatan konsumen-konsumen ku.
Suatu
malam, ada laki-laki yang akan menawar rekan kerja ku. Tapi, ada apa dengan
perasaan ku. aku penasaran dengan
laki-laki itu. Sepertinya aku
mengenalnya. Aku tidak asing dengan wajah dan tingkah polahnya.
“Kak
Chandra…..” aku memanggilnya
Dan betapa kagetnya
aku, dia menoleh. Dia kak Chandra, kakak kandung ku. ada apa ini? Apa yang
terjadi? Kenapa dengan keluargaku? Kenapa kak Chandra disini? Ribuan pertanyaan-pertanyaan
menyerang ku. kenapa kenapa dan kenapa?
“Iya…siapa??”
jawab kak Chandra sambil mendekati ku
Aku seolah-olah ingin
berlari, aku tidak ingin kak Chandra tahu aku disini. Dia bertambah dekat, dan
semakin dekat jarak kami.
“Sepertinya
kita pernah bertemu ya?” tanya kak Chandra
“E..e..iya,
kita selalu bertemu! Kak Chaaaan…masih ingat siapa aku?” tanyaku lirih
“Ta…kamu
Wita?? Kamu Juwita? Ini kamu,Ta?”
Rasa tidak percaya kak
Chandra sangat besar. Dia tidak percaya adiknya akan berdiri disini, ditempat
ini. Tempat yang dianggap sampah. Tempah yang dianggap terlalu menjijikkan
untuk orang. Aku memeluk kak Chandra, aku tidak bisa menahan air mataku. Aku
menangis, merasa bersalah.
“Kakak
kenapa disini? Baju kakak kenapa? Mana jam tangan? Mana sepatu kulitnya?” aku
bertanya menggebu
“Kenapa
kamu pakai tanktop kecil ini. Mana
celana panjang kamu? Kenapa pakai hot
pan? Dimana pakaian lengkap mu deekk?” kak Chandra memaksa ku menjawab
Aku hanya bisa mbrabak. Aku tidak bisa berkata pa-apa
saat kak Chandra tanya hal itu. aku seperti manusia paling bersalah di dunia
ini.
“Mana
Papa sama Mama, Kak? Dimana mereka? Aku kangen sama mereka,Kak!” sambil
menangis
“Kakak
mau minum apa, ayo masuk ke dalam. Kenapa kakak diam?? Jawab kak!! Tolong jawab
pertanyaan ku.” aku memohon
“Ta…ayo
kita pergi dari sini. Ikut kakak ya..jangan disini lagi.” Kak Chandra ikut
menangis
“Kakak
cerita dulu, kenapa sama mama papa?”
“Mama…mama
sudah gak ada di dunia ini, Ta!” kata kak Chandra lirih
“Apa
kak?? Mama sudah meninggal? Gak mungkin, Kak! Aku keluar rumah baru setahun.
Gak mungkin..gak mungkin…” aku tidak percaya
“Papa
kenapa gak ikut kakak? Mana papa kak?” aku penasaran
“Papa
di Rumah Sakit Menur, Ta!” kata kak Chandra sambil sedikit menjerit
Aku langsung pingsan
ketika mendengar hal itu terlontar dari kak Chandra. Rumah Sakit Menur adalah
Rumah Sakit Jiwa di Surabaya. Papa harus dirawat disana. Kata kak Chandra, mama
meninggal dan papa masuk RSJ, karena memikirkan aku. Aku salah menduga, karena
aku berpikir, aku tidak akan dicari orang rumah. Sementara kak Chandra disini
bekerja sebagai kuli. Dia mencari ku dari kota ke kota, dan akhirnya
mendapatkan info dari Desy, kalau aku di Bandung.
Setelah
kejadian itu, aku hidup dengan kakak ku. Walaupun, aku hidup dengan kakak ku
sendiri, tapi aku harus tetap bekerja. Kerja sebagai pelayan toko saja tidk
cukup untuk hidup di kota sebesar ini. Aku masih melanjutkan pekerjaan ku yang
dulu. Meski pun tidak boleh dengan kak Chandra, tapi aku harus membantu kak
Chandra mencari uang untuk biaya papa di Surabaya.
"Yenni Karti"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar