KEBERADAAN
WAYANG THENGUL DESA MULYOAGUNG KECAMATAN BALEN KABUPATEN BOJONEGORO
Yenni
Friske Setiowulan
Abstract
Sebuah
kesenian yang bersifat kearifan lokal adalah suatu aset dari daerah tersebut,
karena muncul dari kreatifitas masyarakat daerah setempat. Di kabupaten
Bojonegoro banyak kesenian tradisional yang masih hidup. Masyarakat merawat dan
melestarikan dengan baik. Perkembangan kesenian tradisional juga di dukung oleh
pemerintah setempat. Bukan hanya dilestarikan, tapi pemerintah juga memberi
tempat untuk tempat pertunjukannya. Salah satunya adalah wayang thengul,
kesenian ini adalah kesenian asli dari kabupaten Bojonegoro yang sampai saat
ini masih hidup dan berkembang. Sekarang ini perkembanganya hingga ke seluruh
kawasan kabupaten Bojonegoro. Pemerintah dan masyarakat sepakat untuk terus
mengenalkan pada seluruh kalangan. Salah satunya adalah di kecamatan Balen
khususnya desa Mulyoagung. Di desa ini wayang thengul terus dijaga dan
dilestarikan.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
bagaimana posisi wayang thengul pada masyarakat desa Mulyoagung kecamatan Balen
Kabupaten Bojonegoro. Pendekatan penelitian yang
digunakan yaitu pendekatan deskriptif kualitatif.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan:(1) pencatatan, (2) wawancara, (3) studi kepustakaan
dan analisis dokumentasi.
Langkah-langkah dalam analisis data yang dilakukan dengan cara: pemahaman data,
dan mengkhlasifikasi data. Sedangkan untuk keabsahan data, peneliti(1)
melakukan triangulasi.
Berkembangnya wayang thengul di desa Mulyoagung
kecamatan Balen Kabupaten Bojonegoro ini bukan tanpa campur tangan dari
warganya. Semua berawal dari pandangan warga yang menganggap penting bahwa
melestarikan kesenian tradisional adalah kewajiban warga setempat. Banyak
kalangan orang tua mengajarkan kepada anak- anaknya untuk tetap menjaga dan
mengembangkan kesenian tradisional. . Masyarakat desa Mulyoagung adalah
masyarakat tradisional menuju modernisasi, maka di desa ini terjadi pergeseran
zaman. Hubungan Wayang thengul dengan warga desa Mulyoagung adalah sangat baik,
atau berbasis simbiosis mutualisme, karena diantara keduanya saling
menguntungkan. Fungsi wayang thengul pada warga desa adalah hiburan, ritual,
ekspresi, ekonomi. Dari fungsi- fungsi tersebut semua saling menguntungkan
antara warga desa dengan pertunjukkan wayang thengul.
Pendahuluan
Kabupaten
Bojonegoro adalah kabupaten yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah yaitu
dengan kabupaten Blora. Menurut sejarah, Bojonegoro mendapat pengaruh kuat
kebudayaan Hindu yang datang dari India. Pada abad ke 16 daerah ini masuk dalam
wilayah kerajaan Demak. Seiring dengan berkembangnya budaya Islam, terjadilah
pergeseran dari budaya Hindu ke budaya Islam yang langsung menguasai kota ini.
Kekuasaan beralih pada Kerajaan Pajang (1586) dan kemudian Mataram (1587). Di
era modernisasi kali ini, masyarakat mengembangkan kebudayaan- kebudayaan yang
sudah ada. Seperti kesenian yang bersifat tradsional. Kesenian khas yang masih
hidup sekarang ini diantaranya adalah Tayub, Bonang Renteng, Oklik, Geyer
Sandur dan Wayang Thengul.
Wayang
Thengul adalah kesenian tradisi berbentuk pertunjukan wayang golek ( boneka
dari kayu) yang tumbuh dan berkembang di Bojonegoro. Sebenarnya Wayang Thengul
ini sangat mirip dengan Wayang Golek yang ada di Jawa Barat, perbedaanya adalah
wayang golek sudah dikenl masyarakat luas secara nasional, sedangkan wayang
thengul masih bersifat lokal. Wayang Thengul lebih komunikatif dengan penonton.
Penonton bisa memesan tembang yang
dinyanyikan sinden, serta bisa langsung ikut menari dan sesi ini disebut geyeran. Namun sekarang ini banyak
dalang yang terpaksa tidak hanya menggunakan tembang asli Jawa seperti dulu, melainkan harus mengikuti
berkembangan zaman, yaitu memadukannya dengan iringan campursari atau dangdut.
Istilah thengul berasal dari kata methentheng
terus methungul, yang artinya adalah karena wayang ini terbuat dari kayu
atau tiga dimensi maka dalang harus methentheng
(menggunakan tenaga ekstra) mengangkat dengan serius agar wayang dapat methungul (terlihat) muncul dan terlihat
pada penonton. Selain itu ada makna untuk pembangunan masyarakatnya yang
bermakna selalu bersemangat dalam menyambut perkembangan. Kesenian wayang thengul
berasal dari desa Tenggor kecamatan Ngasem kabupaten Bojonegoro, maka dari itu
salah satu gending wajibnya adalah gending tenggor. Kesenian ini adalah
kesenian yang lahir dan perkembang di wilayah kabupaten Bojonegoro tanpa campur
tangan dari daerah lain. Pada alasan yang kedua, peneliti tertarik dengan
bentuknya, wayang thengul memiliki
keunikan bentuk yang membuatnya berbeda dengan wayang- wayang lainya. Peneliti
juga ingin mengetahui apa alasan masyarakat mempertahankan kesenian ini dengan pakem yang masih asli. Wayang thengul
merupakan wayang yang sudah lama muncul tapi sampai sekarang belum ada bukti
konkrit dari mana wayang ini berasal. Adapun bukti tulisan yang menceritakan
tentang kesenian ini masih berbentuk tulisan jawa madya atau jawa kuno. Perjalanan kesenian ini tidaklah mulus,
banyak sekali perkembangan sampai pergeseran fungsi terjadi pada kesenian ini.
Sedikit orang mengetahui bagaimana bentuk pertunjukan kesenian ini. Masyarakat
berapresiasi bahwa wayang thengul bentuk penampilanya serupa dengan wayang
golek. Padahal sebenarnya dua kesenian tersebut berbeda mempunyai perbedaan terutama pada cerita dan
kemunculanya. Wayang thengul merupakan hasil kearifan lokal Bojonegoro
sedangkan wayang golek berasal dari daerah Jawa Barat. Selain itu ada keunikan
tersendiri pada pertunjukan kesenian ini karena bisa dikemas secara sederhana.
Inilah yang menyebabkan masyarakat Bojonegoro masih bisa menerima adanya
kesenian tradisional ini.
Wayang
Thengul adalah termasuk dalam seni pakeliran. Pada kelirnya berukuran 8m x
1,75m. perbedaan kelir Wayang Thengul dan Wayang Kulit adalah jika Wayang
Thengul di tengah kelirnya terdapat lubang berukuran sekitar 1,5m x 1m. lubang
tersebut mempunyai fungsi yaitu agar Wayang Thengul bisa dilihat dari sisi
belakang. Sedangkan untuk bentuk fisiknya, Wayang Thengul berbentuk 3 dimensi.
Tubuhnya terbuat dari kayu dan tidak mempunyai kaki, hanya mempunyai satu
batang kayu agar bisa di tancapkan di debog (batang piang). Ukuran postur
tubuhnya 40cm dan besarnya 10cm. tata
busana Wayang Thengul diadaptasi dari cirri khas Bojonegoro dan Arab (Islami).
Jika ditinjau dari iringan, Wayang Thengul menggunakan gamelan slendro. Yang
dimainkan wiyogo, gerong dan sinden. Gendingnya juga menggunakan gending khas
Bojonegoro yang bernama gending Tenggor. Nama gending tersebut sebenarnya
adalah nama salah satu desa di Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro. Belum ada
sumber yang menjelaskan apakah Wayang Thengul dari desa tersebut atau tidak.
Adapula gending yang baku pada Wayang Thengul, gending tersebut bernama waru
doyong, serta gending ladrang yang bersifat gending tambahan. Sama halnya
dengan ketoprak, Wayang Thengul mengangkat cerita yang diambil dari kisah
nyata. Ada berbagai macam cerita yang
biasa dimainkan dalang. Cerita Menak (Amir Hamzah), Majapahit, Demak, Kediri,
dan bahkan cerita Wali Sanga, dari mulai Sunan Giri hingga Sunan Kalijaga.
Dalam pertunjukan Wayang Thengul zaman sekarang ini, banyak sekali
tambahan-tamabahan yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakatnya. Di
sela-sela suatu adegan , adapat disisipkan adegan Gecul (banyolan), yang mengungkapkan tentang kabar yang sedang
berkembang di tengah masyarakat. Wayang ini juga dapat disajikan sesederhana
mungkin.
Gambar
Pertunjukkan Wayang Thengul
Masyarakat
Desa Mulyoagung
Desa
Mulyoagung adalah desa yang termasuk dalam kecamatan Balen kabupaten
Bojonegoro. . Desa ini adalah salah satu desa agraris di kabupaten Bojonegoro.
Penghasilan utama dalam bidang pertanian adalah padi. Banyak lahan kosong di
daerah ini, sehingga masyarakat memanfaatkan lahan tersebut untuk dijadikan
kawasan persawahan. Jadi mata pencaharian masyarakat desa Mulyoagung mayoritas
adalah petani. Petani bisa dibagi menjadi petani yang memiliki sawah dan petani
yang hanya sebagai buruh. Ada sebagaian yang bekerja sebagai buruh serabutan,
dan sedikit yang menjadi pegawai negeri sipil. Menurut data penduduk desa
Mulyoagung, usia produktif adalah usia mayoritas di desa ini yaitu antara 18-
45 tahun. Rata- rata penghasilan per bulan masyarakat desa Mulyoagung adalah Rp
1.000.000,- (satu juta rupiah), hal ini tentu dianggap masih kurang untuk
memenuhi kebutuhan sehari- hari.
Jika melihat dari segi pendidikan
dan penghasilan, masyarakat disini termasuk masyarakat menengah kebawah,
akibatnya masyarakat desa ini hidup dengan sederhana. Dari segi transportasi,
masyarakat banyak yang menggunakan sepeda dan sepeda motor, hanya beberapa yang
mempunyai mobil pribadi, kecuali pick up dan
itu untuk berdagang. Walaupun letaknya yang cukup jauh dari kota, dalam hal
sarana komunikasi, masyarakat disini sudah mengenal telepon genggam atau handphone, karena masyarakat desa ini
sudah mulai mengenal modernisasi.
Di dalam masyarakat agraris, dan
pasti terletak di daerah pinggiran kota, hiburan merupakan hal yang sangat
kurang di dapatkan. Masyarakat hanya mengandalkan televisi atau radio saja
untuk sarana hiburan. Hal inilah yang menyebabkan kesenian tradisional masih
sangat digemari dan dikembangkan. Menurut Pak Cipto salah satu warga desa
Mulyoagung, mengembangkan kesenian tradisional merupakan kewajiban warga desa
apalagi kesenian asli Bojonegoro. Warga percaya bahwa kesenian tradisional
adalah kesenian tuntunan yang bisa mendidik dan dijadikan contoh, dari segi
cerita maupun penokohan. Tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau sarana
pendidikan. Namun kesenian tradisional khusunya wayang thengul juga digunakan
sebagai mata pencaharian sampingan beberapa warga, yaitu dengan menjadi wiyogo atau membantu pada saat
pementasan.
Di
dalam kehidupan bermasyarakat, akan ditemukan bagaimana pendapat antar warga
yang kadang kala di pengaruhi oleh pola berpikir individunya, tidak jarang pula
hal tersebut bisa mambangun atau bahkan menjadikan jarak antar warga.
Komunikasi tetap dilakukan antar warga karena warga percaya komunikasi adalah
alat yang cocok digunakan untuk bertukar pikiran, saling beragumentasi dan
berdikusi. Entah itu persolan desa, kehidupan sehari- hari atau bahkan
pertandingan bola. Pada masyarakat menengah kebawah tidak ditemukan adanya
stratifikasi sosial yang menandakan bahwa kehidupan sosialnya dibedakan antara
satu warga dengan warga yang lain. Masyarakat desa Mulyoagung ini termasuk
dalam masyarakat yang homogen, yaitu mayoritas sama, mereka hidup bersama-sama
dan bermasyarakat secara alami.
Dari segi sosial budaya,
masyarakat desa Mulyoagung hidup rukun dan saling gotong royong, hal ini di
sebabkan karena masih terjadi saling ketergantungan antar warga. Interaksi
sosial sebagai proses pengaruh- mempengaruhi, menghasilkan hubungan tetap yang
akhirnya memungkinkan pembentukan struktur sosial (Dr. phil. Astrid S. Susanto,
1979:42). Antar warga masih saling membutuhkan dan membantu. Warga masih
memegang teguh cara- cara lama dalam beriteraksi sosial, karena warga desa
Mulyoagung masih sedikit yang mengenal modernisasi. Penduduknya masih sangat
erat antar tetangga, sistem kekerabatannya juga masih sangat alami atau utun dalam bahasa Jawa. Desa ini
memiliki fasilitas yang cukup terbatas, seperti halnya jalan menuju desa ini
baru saja dibangun pemerintah setempat dengan bahan paving. Transportasi menuju desa ini pun harus menggunakan
kendaraan pribadi atau jalan kaki yang letaknya cukup jauh dari jalan raya.
Kegiatan- kegiatan yang dilakukan warga secara bersamaan merupakan kebiasaan
warga yang sudah diturunkan dari nenek moyang. kurangnya sarana dan fasilitas
adalah salah satu faktor yang menyebabkan warga tetap berpegang pada tradisi
lama.
Dari segi pendidikan, warga desa
masih berpikir bahwa pendidikan adalah nomer sekian. Mayoritas pendidikan
terakhir masyarakat desa Mulyoagung adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Karena
tuntutan ekonomi yang masih tinggi, maka masyarakat masih berpikiran bahwa
bekerja adalah hal yang utama. Tentu saja akan semakin berpengaruh terhadap
bagaimana pola berpikir masyarakat setempat. Menurut A. Kasim Achmad (2006: 29)
Jenis dan
keragaman teater tradisional yang ada di Indonesia, bersumber dari perbedaan
budaya sejumlah etnik yang hidup berdampingan serta saling mendukung dan
mempengaruhi, sehingga teater tradisional di suatu daerah mempunyai kesamaan
dengan lainnya, dengan tetap memiliki kekhasan daerahnya.
Jadi keragaman
kesenian tradisional juga di dukung daerahnya. Bagaimana daerah itu
memperlakukan kesenian tersebt, dari apresiasi sampai dengan ekspresi.
Masyarakat desa Mulyoagung saat ini sudah mulai mengekspresikan bagaimana kesenian
tradisional tersebut. Masyarakat mulai belajar bagaimana mengelola pertunjukan
sampai pada mengenalkan pada anak- anak dan masyarakat luar desa..
Disadari atau tidak, masyarakat sekarang ini sudah
mengalami perubahan atau masyarakat dalam era transformasi, yaitu masyarakat
yang berpindah dari masyarakat tradisi menuju masyarakat modern. Masyarakat
yang seperti ini bisa mengalami kemunduran dan kemajuan. Jika kemunduran karena
di sebabkan faktor cara berpikir dan cara berinteraksi, karena kebanyakan ciri
berinteraksi masyarakat yang modern adalah secara individu atau mengandalkan
diri sendiri. Akan tetapi kemajuanya adalah cara pandang warga tehadap sesuatu
bisa jadi lebih meluas, tidak hanya pada batasan- batasan tertentu.
Tradisi
paling mendasar adalah traditum yaitu
sesuatu yang diteruskan dari masa lalu ke masa sekarang. Dalam hal ini tentu
bisa berupa benda, atau kebiasaan masyarakat. turun temurunya suatu adat dan
kebiasaan masyarakat ini di karenakan kepercayaan masyarakat akan leluhur atau
nenek moyangnya. Oleh karena itu masyarakat berusaha untuk tetap menjaga dan
memelihara keberlangsungan adat tersebut. Banyak alasan kenapa masyarakat tidak
meninggalkan kebiasaan- kebiasaan tersebut, misalnya masyarakat belum siap
menerima perubahan sosial. Nilai- nilai yang berlaku pada masyarakat
tradisional belum menunjukan sikap
terbuka pada perubahan sosial menuju masyarakat modern. Hal ini masih terjadi
pada masyarakat desa Mulyoagung. Masyarakat masih membatasi diri terhadap era
globalisasi sekarang ini. Masyarakat masih terbatas tentang perkembangan
pengetahuan dan teknologinya sehingga tingkat produksinya juga masih sedikit.
Masyarakat desa Mulyoagung merupakan masyarakat yang homogen, karena masyarakat
di desa ini di besarkan dengan cara yang sama antara satu dengan yang lainnya
dalam satu daerah tersebut. Selain karena kesamaan cara berpikir, skalanya juga
kecil, contoh kesamaan tersebut misalnya dalam pekerjaan dan hubungan
kekerabatan. Sedangkan modernisasi
adalah berubahnya cara berpikir masyarakat terhadap sesuatu dari cara berpikir
tradisi menuju cara berpikir yang lebih maju. Di Indonesia, pedesaan identik
dengan pertanian atau daerah agraria. Perkembangan agraris merupakan salah satu
faktor utama pendukung masyarakat pedesaan. Perkembangan pasar mulai
mempengaruhi perubahan pada masyarakat desa, hal inilah yang menyebabkan adanya
perubahan cara berpikir pada masyarakat pedesaan. Keadaan masyarakat desa
Mulyoagung juga mengalami perkembangan dan perubahan. Sedikit banyak masyarakat
mulai gengsi menggunakan cara- cara lama yang diterapkan
orang tua dulu. Dari mulai penampilan, alat komunikasi, cara bertutur kata,
interaksi sosial, dan lain- lain. Masyarakat meyakini dengan menggunakan gadget dan
mode yang terbaru, maka mereka akan disebut sebagai masyarakat masa
kini.
Perubahan sosial pada intinya adalah perubahan cara
interaksi sosial yang ada di dalam masyarakat. entah itu interaksi kehidupan
berkelompok, dari segi sosiologis atau politik. Tipe masyarakat dengan pola
kehidupan seperti inilah yang terkadang masih bisa dikatakan sebagai masyarakat
plin-plan. Dalam segi penampilan
sebagian masyarakat sudah menganut pola modernisasi, tapi terkadang kebudayaan
dan sisi agama yang masih masyarakat pegang dalam menjalankan kehidupan sehari-
hari. Hal inilah yang bisa dikatakan masyarakat tersebut maih dalam era
masyarakat transformasi.
Masyarakat
desa Mulyoagung merupakan masyarakat yang belum banyak mengenal modernisasi.
Akan tetapi sedikit banyak sudah mengalami perubaan sosial dan perubahan
masyarakat. hal ini dapat dilihat dari cara berpikir dan penampilan mayoritas
warga. Walaupun banyak akibat yang didapat dari perubaha ini, banyak hal
positif yang bisa diambil dari perubahan masyarakat ini. Masyarakat desa
Mulyoagung adalah masih bersifat lokal membuat cara berpikir individunya masih
kedaerahan dan masih sederhana. Masyarakat yang masih berpegang teguh pada
cara- cara yang diajarkan secara turun- temurun. Sarana yang digunakan juga
masih minim, termasuk sarana pendidikan, khususnya pendidikan kesenian.
Masyarakat tidak banyak yang mengenal bagaimana pendidikan seni tersebut.
masyarakat hanya mampu menikmati bagaimana kesenian bukan mempelajari. Namun
masyarakat Mulyoagung tidak tertutup dalam menerima kebudayaan dari luar. Banyak kegiatan dalam kehidupan sehari- hari
yang mereka adaptasikan dari budaya luar.
Gambar Pedagang
di pertunjukkan wayang thengul
Posisi
Wayang Thengul di Desa Mulyoagung
Fungsi kesenian
wayang thengul di desa Mulyoagung adalah :
1.
Hiburan
Di kalangan
masyarakat modern, hiburan adalah kebutuhan yang cukup penting, karena memang
zaman modern ini penuh dengan aktifitas yang mengacu pada profesi atau pekerjaan.
Masyarakat modern menganggap bahwa yang membuat tertawa atau fresh adalah merupakan bentuk hiburan.
Bagaimana pun juga, drama maupun teater dapat pula dipandang sebagai suatu
hiburan. Banyak teater besar yang tampil untuk kesenangan. Drama maupun teater
sebagai hiburan atau entertainment merupakan realitas actual di era yang
menghidupkan dirinya dengan bentuk hiburan yang memungkinkan drama menjadi
bagian dari proses relaksasi dalam kehidupan sekarang ini (Autar
Abdillah,2008:92). Sekarang ini, banyak sekali yang beranggapan bahwa teater
tradisional adalah sebagai hiburan. Contohnya adalah pada saat hajatan, maka
masyarakat Mulyoagung akan nanggap wayang
thengul, meski tidak jarang juga ada kesenian modern. Dari kebutuhan masyarakat
yang kembali tertarik pada kesenian tradisional, maka seniman-seniman kesenian
tradisi sekarang lebih berani menampilkan lagi, tapi kemasan pertunjukannya
sudah di modifikasi atau dikembangkan menjadi lebih segar. Percampuran antara
tradisional dan modern inilah yang sekarang semarak di kalangan masyarakat.
2.
Ritual
Masyarakat
Mulyoagung sampai sekarang ini masih mempertunjukkan wayang thengul ketika desa
sedang mempunyai hajatan, contohnya pada acara tingkep pari, wayang thengul menjadi pertunjukkan wajib pada acara
ini. Karena lewat cerita wayang thengul, warga bisa belajar tentang bagaimana
kehidupan bermasyarakat. Dalam acara tingkep
pari, biasanya dalang mengangkat cerita tentang dewi sri, yaitu dewi
kesuburan, dengan cerita ini masyarakat yakin akan dengan padi yang akan di
panen.
3.
Ekspresi
Teater
tradisional adalah salah satu bentuk ekspresi manusia zaman dulu. Mereka
mengemas dengan banyak bentuk. Dulu
manusia mengekspresikan melalui bentuk yang sangat sederhana, karena
memang serba terbatas. Seiring berjalannya waktu, teater tradisional itu mulai
dikembangkan dengan fenomena yang sedang hangat di masyarakat. Sampai pada
masyarakat modern sekarang, teater tradisonal juga menjadi sesuatu yang baru
tapi tetap dikenal sama seperti zaman-zaman sebelumnya. Bentuk, tampilan dan
tata teknik pentasnya pun masih sama, hanya saja masyarakat modern menambahkan
sesuatu yang baru di dalam kemasan pertunjukkan. Hal ini juga dibuat manusia
agar menimbulkan efek- efek psikologi jika manusia tersebut melihat
pertunjukkan tersebut. Ekspresi yang seperti ini juga dialami masyarakat desa
Mulyoagung. Wayang thengul dinilai berpengaruh pada setiap warga yang menonton,
mulai terbawa cerita sampai dengan bisa belajar melalui pesan- pesan yang
disampaikan.
4.
Ekonomi
Semakin minatnya
masyarakat terhadap kesenian tradisi, maka tidak jarang hal ini mengakibatkan
semakin banyak pula seniman-seniman tradisional memanfaatkannya sebagai mata
pencaharian. Hal ini dibuktikan minatnya warga untuk menjadi wiyogo atau pemain gamelan, atau menjadi
asisten dalang. Walaupun tidak memiliki keahlian khusus, warga mau belajar
tentang bagaimana cara memainkan gamelan. Tidak hanya menjadi bagian intern dalam pertunjukkan, warga juga
memanfaatkan keramaian desa untuk tempat berjualan. Warga membuka lapak jualan
ketika ada pertunjukkan wayang thengul. Hal ini akan menjadi simbiosis
mutualisme, karena antara pertunjukkan wayang thengul dan warga akan saling
menguntungkan.
Jadi
Fungsi awal kesenian wayang thengul adalah selain sebagai hiburan, juga
mengganggap wayang thengul adalah kesenian wajib dalam acara- acara khusus yang
bersifat ritual. Seperti nyadran,
siratan, tingkepan pari dan acara hajatan seperti pernikahan dan sunatan.
Seiring perkembangan jaman, kesenian ini digunakan beberapa masyarakat sebagai
salah satu mata pencaharian sekunder, yaitu dengan cara menjadi wiyogo, sinden atau membantu pada saat
pementasan.
Seiring
dengan perkembangan teknologi, pertunjukan kesenian wayang thengul mulai kalah
dengan acara- acara yang dikemas secara modern. Seperti acara pengajian, hadrah
atau yang lainya. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduknya memeluk agama
islam, jadi acara tersebut selain dijadikan hiburan juga dijadikan sebagai
media dakwah dalam mempertebal ilmu agama. Para dalang pun tidak ingin kalah,
para dalang lebih sering
menggunakan
cerita- cerita islami misalnya cerita sunan atau cerita kehidupan masyarakat
yang religius. Karena masyarakat bisa menerima kesenian tradisional dan modern,
maka sampai saat ini kesenian tradisional dan kesenian modern berjalan secara
seimbang di desa ini.
Hubungan Masyarakat Desa Mulyoagung
dengan Wayang Thengul
Masyarakat
desa Mulyoagung tidak asing mendengar kata wayang thengul, karena kesenian ini
memang sudah melekat dengan masyarakat. Menurut Pak Cip salah satu warga desa
Mulyoagung yang sekaligus pemerhati kesenian tradisional, wayang thengul adalah
salah satu aset kesenian Bojonegoro yang harus di jaga dan di pelihara
keaslianya. Desa Mulyoagung adalah salah satu desa yang masih rutin menggelar
pertunjukkan wayang thengul. Wayang thengul ini dapat tumbuh dan berkembang
karena adanya dukungan dari masyarakat, karena selain sebagai tontonan, wayang
juga dapat menjadi tuntunan, pendidikan, bimbingan dan sebagai pedoman dalam
kehidupan, khususnya pada masyarakat Jawa. Hal ini diterapkan oleh masyarakat
desa Mulyoagung sebagai sarana belajar bagi masyarakat, karena ceritanya yang
mengandung banyak unsur dari cerita tentang Jawa dan agama.
Masyarakat desa Mulyoagung merupakan masyarakat yang
belum banyak mengenal modernisasi. Akan tetapi sedikit banyak sudah mengalami
perubaan sosial dan perubahan masyarakat. hal ini dapat dilihat dari cara
berpikir dan penampilan mayoritas warga. Walaupun banyak akibat yang didapat
dari perubaha ini, banyak hal positif yang bisa diambil dari perubahan
masyarakat ini. Masyarakat desa Mulyoagung adalah masih bersifat lokal membuat
cara berpikir individunya masih kedaerahan dan masih sederhana. Masyarakat yang
masih berpegang teguh pada cara- cara yang diajarkan secara turun- temurun.
Sarana yang digunakan juga masih minim, termasuk sarana pendidikan, khususnya
pendidikan kesenian. Masyarakat tidak banyak yang mengenal bagaimana pendidikan
seni tersebut. masyarakat hanya mampu menikmati bagaimana kesenian bukan
mempelajari. Namun masyarakat Mulyoagung tidak tertutup dalam menerima
kebudayaan dari luar. Banyak kegiatan
dalam kehidupan sehari- hari yang mereka adaptasikan dari budaya luar.
Di
dalam perjalanan kesenian tradisional ada masa kejayaan dan masa tenggelam. Hal
ini juga dialami oleh kesenian wayang thengul.
Kesenian Wayang thengul sempat memiliki masa keemasan yaitu sekitar tahun 1950an. Saat itu wayang thengul
menjadi salah satu kesenian yang sangat digemari masyarakat. bukan hanya untuk
kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan bersama. Salah satu contohnya,
saat warga mempunyai hajatan, warga akan nanggap
wayang thengul.
Setelah mempunyai masa keemasan, wayang thengul juga
mempunyai masa dimana penikmatnya mulai berkurang. Sejak tahun 1970an, wayang
thengul menjadi sepi. Tanggapan menjadi
sangat berkurang, sehingga banyak dalang wayang thengul yang berpindah menjadi
dalang wayang lainya. Banyak cara yang dilakukan para pekerja seni dan dalang-
dalang yang masih aktif agar wayang thengul bisa terus berjaya.
Sekitar
tahun 1990an, munculah tari thengul, dimana tari ini adalah bentuk lain dari
wayang thengul. Munculnya tari thengul adalah salah satu alasan para seniman
agar masyarakat mau kembali menerima wayang thengul sebagai salah satu kesenian
asli yang harus tetap dikembangkan. Usaha ini mendapat respon baik dari masyarakat Bojonegoro, karena dengan usaha ini
wayang thengul mulai dikenal lagi.
Sampai
tahun 2000an masyarakat semakin mengenal wayang thengul , hal ini merupakan
hasil para dalang yang sering mengadakan pentas keliling dari kecamatan ke
kecamatan di dalam kabupaten Bojonegoro. Sampai saat ini wayang thengul dikenal
sebagai kesenian yang ramah dan terbuka, salah satu contohnya adalah
pertunjukan wayang thengul berkolaborasi dengan orkes melayu atau dengan tayub.
Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian lebih para penikmat wayang thengul
agar tidak bosan.
Kecamatan Balen khususnya desa Mulyoagung menemani
perjalanan wayang thengul dari masa keemasan sampai pasang surut . sampai
sekarang ini masyarakat masih terus menganggap bahwa wayang thengul adalah
salah satu kesenian yang paling disukai. Karena bisa dinikmati semua kalangan,
dari mulai anak- anak sampai orang tua.
Simpulan
Desa Mulyoagung adalah desa yang masuk
dalam wilayah Kecamatan Balen Kabupaten Bojonegoro. Masyarakat disini termasuk
dalam masyarakat agraris, kehidupannya masih sederhana. Kehidupan masyarakat
ini termasuk dalam kalangan masyarakat menengah ke bawah, hal ini di sebabkan
karena penghasilan masyarakat desa yang masih dalam taraf rendah. Selain karena
penghsilan yang masih rendah, tingkat pendidikan masyarakat desa ini juga masih
dalam kategori rendah, yaitu rata- rata Sekolah Menengah Umum (SMP). Mata pencaharian
mayoritas warga adalah sebagai petani. Dalam keseharian warga masih mempercayai
adanya ritual- ritual atau mitos yang diajarkan nenek moyang.
Wayang
thengul adalah jenis teater tradisional dan masuk dalam teater rakyat. Karena Teater yang dituturkan dengan
peragaan- disamping dengan cara diceritakan, juga disertakan peragaan dari
cerita yang dihidangkan. Wayang adalah teater tutur dengan peragaan. Sang
dalang bercerita sambil memainkan wayang. Peran dalang sebagai pencerita dalam
pertunjukan wayang sangat menentukan. Di samping kemahiran bercerita, dalang
pun dituntut tampil memainkan wayangnya. Pada awalnya wayang thengul hanya
digunakan sebagai hiburan acara ritual warga pada saat acara- acara tertentu
seperti manganan, siratan, dan
sebagainya. Seiring dengan berjalanya jaman, wayang thengul diadakan pada acara
hajatan warga, seperti mantu, sunatan,
maleman, dan sebagainya. Perkembangan wayang thengul sangat terlihat jelas.
Pada saat jaman keemasan sampai setelah wayang thengul mulai kehilangan
peminatnya. Wayang thengul sekarang ini lebih bersifat terbuka, misalnya lebih
bisa fleksibel dengan permintaan si penanggap.
Masyarakat desa Mulyoagung sudah menganggap
wayang thengul adalah bagian dari kemajuan desa, karena warga percaya bahwa
cerita- cerita dari wayang thengul tersebut bisa membangun pemikiran- pemikiran
baru tentang kehidupan sehari- hari. n Selain itu wayang thengul dan warga desa
membentuk simbiosis mutualisme, yaitu saling menguntungkan. Warga bisa
mendapatkan rejeki di pertunjukkan wayang thengul, dan pertunjukkan wayang
thengul bisa semakin ramai dengan adanya pedagang- pedagang yang ada di sekitar
tempat pertunjukkan.
Saran
Kesenian tradisional yang berasal dari daerah
itu sendiri adalah merupakan suatu cerminan dari masyarakatnya, jadi sudah
sepantasnya kalau kesenian tersebut dijaga dan dilestarikan. Wayang thengul
adalah salah satu kesenian yang bersifat kearifan lokal, oleh karena itu
masyarakat Bojonegoro wajib ikut andil dalam pelestariannya. Sampai saat ini
masihbelum ada referensi cetak untuk kesenian ini. Seharusnya pemerintahan
kabupaten Bojonegoro mengadakan sesuatu hal untuk mendapatkan data- data yang pakem terhadap kesenian wayang thengul
tersebut. Penulis merasa masih terjadi simpang siur antara informan satu dengan
yang lain, karena para informan mempunyai pendapatnya masing- masing. Hal ini
tentu juga dirasakan masyarakat yang ingin tahu tentang sejarah wayang thengul.
Penulis berpendapat semua masyarakat Bojonegoro wajib melestarikan kesenian
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar