Daftar Blog Saya

Kamis, 04 Desember 2014

Kali Ciliwung



"Jah.. Ijah senajan to kowe mung dadi gojekane wong lanang, nanging kowe wis buktikake yen kowe ki wong wadon rosa, Jah!!" - Kali Ciliwung-

Jurnal Wayang Thengul Bojonegoro



KEBERADAAN WAYANG THENGUL DESA MULYOAGUNG KECAMATAN BALEN KABUPATEN BOJONEGORO

Yenni Friske Setiowulan
Abstract
Sebuah kesenian yang bersifat kearifan lokal adalah suatu aset dari daerah tersebut, karena muncul dari kreatifitas masyarakat daerah setempat. Di kabupaten Bojonegoro banyak kesenian tradisional yang masih hidup. Masyarakat merawat dan melestarikan dengan baik. Perkembangan kesenian tradisional juga di dukung oleh pemerintah setempat. Bukan hanya dilestarikan, tapi pemerintah juga memberi tempat untuk tempat pertunjukannya. Salah satunya adalah wayang thengul, kesenian ini adalah kesenian asli dari kabupaten Bojonegoro yang sampai saat ini masih hidup dan berkembang. Sekarang ini perkembanganya hingga ke seluruh kawasan kabupaten Bojonegoro. Pemerintah dan masyarakat sepakat untuk terus mengenalkan pada seluruh kalangan. Salah satunya adalah di kecamatan Balen khususnya desa Mulyoagung. Di desa ini wayang thengul terus dijaga dan dilestarikan.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana posisi wayang thengul pada masyarakat desa Mulyoagung kecamatan Balen Kabupaten Bojonegoro.  Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu pendekatan deskriptif kualitatif.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan:(1) pencatatan, (2) wawancara, (3) studi kepustakaan dan analisis dokumentasi. Langkah-langkah dalam analisis data yang dilakukan dengan cara: pemahaman data, dan mengkhlasifikasi data. Sedangkan untuk keabsahan data, peneliti(1) melakukan triangulasi.
Berkembangnya wayang thengul di desa Mulyoagung kecamatan Balen Kabupaten Bojonegoro ini bukan tanpa campur tangan dari warganya. Semua berawal dari pandangan warga yang menganggap penting bahwa melestarikan kesenian tradisional adalah kewajiban warga setempat. Banyak kalangan orang tua mengajarkan kepada anak- anaknya untuk tetap menjaga dan mengembangkan kesenian tradisional. . Masyarakat desa Mulyoagung adalah masyarakat tradisional menuju modernisasi, maka di desa ini terjadi pergeseran zaman. Hubungan Wayang thengul dengan warga desa Mulyoagung adalah sangat baik, atau berbasis simbiosis mutualisme, karena diantara keduanya saling menguntungkan. Fungsi wayang thengul pada warga desa adalah hiburan, ritual, ekspresi, ekonomi. Dari fungsi- fungsi tersebut semua saling menguntungkan antara warga desa dengan pertunjukkan wayang thengul.    










Pendahuluan
Kabupaten Bojonegoro adalah kabupaten yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah yaitu dengan kabupaten Blora. Menurut sejarah, Bojonegoro mendapat pengaruh kuat kebudayaan Hindu yang datang dari India. Pada abad ke 16 daerah ini masuk dalam wilayah kerajaan Demak. Seiring dengan berkembangnya budaya Islam, terjadilah pergeseran dari budaya Hindu ke budaya Islam yang langsung menguasai kota ini. Kekuasaan beralih pada Kerajaan Pajang (1586) dan kemudian Mataram (1587). Di era modernisasi kali ini, masyarakat mengembangkan kebudayaan- kebudayaan yang sudah ada. Seperti kesenian yang bersifat tradsional. Kesenian khas yang masih hidup sekarang ini diantaranya adalah Tayub, Bonang Renteng, Oklik, Geyer Sandur dan Wayang Thengul.
Wayang Thengul adalah kesenian tradisi berbentuk pertunjukan wayang golek ( boneka dari kayu) yang tumbuh dan berkembang di Bojonegoro. Sebenarnya Wayang Thengul ini sangat mirip dengan Wayang Golek yang ada di Jawa Barat, perbedaanya adalah wayang golek sudah dikenl masyarakat luas secara nasional, sedangkan wayang thengul masih bersifat lokal. Wayang Thengul lebih komunikatif dengan penonton. Penonton bisa memesan tembang yang dinyanyikan sinden, serta bisa langsung ikut menari dan sesi ini disebut geyeran. Namun sekarang ini banyak dalang yang terpaksa tidak hanya menggunakan tembang asli Jawa seperti dulu, melainkan harus mengikuti berkembangan zaman, yaitu memadukannya dengan iringan campursari atau dangdut. Istilah thengul berasal dari kata methentheng terus methungul, yang artinya adalah karena wayang ini terbuat dari kayu atau tiga dimensi maka dalang harus methentheng (menggunakan tenaga ekstra) mengangkat dengan serius agar wayang dapat methungul (terlihat) muncul dan terlihat pada penonton. Selain itu ada makna untuk pembangunan masyarakatnya yang bermakna selalu bersemangat dalam menyambut perkembangan. Kesenian wayang thengul berasal dari desa Tenggor kecamatan Ngasem kabupaten Bojonegoro, maka dari itu salah satu gending wajibnya adalah gending tenggor. Kesenian ini adalah kesenian yang lahir dan perkembang di wilayah kabupaten Bojonegoro tanpa campur tangan dari daerah lain. Pada alasan yang kedua, peneliti tertarik dengan bentuknya, wayang thengul  memiliki keunikan bentuk yang membuatnya berbeda dengan wayang- wayang lainya. Peneliti juga ingin mengetahui apa alasan masyarakat mempertahankan kesenian ini dengan pakem yang masih asli. Wayang thengul merupakan wayang yang sudah lama muncul tapi sampai sekarang belum ada bukti konkrit dari mana wayang ini berasal. Adapun bukti tulisan yang menceritakan tentang kesenian ini masih berbentuk tulisan jawa madya atau jawa kuno. Perjalanan kesenian ini tidaklah mulus, banyak sekali perkembangan sampai pergeseran fungsi terjadi pada kesenian ini. Sedikit orang mengetahui bagaimana bentuk pertunjukan kesenian ini. Masyarakat berapresiasi bahwa wayang thengul bentuk penampilanya serupa dengan wayang golek. Padahal sebenarnya dua kesenian tersebut berbeda  mempunyai perbedaan terutama pada cerita dan kemunculanya. Wayang thengul merupakan hasil kearifan lokal Bojonegoro sedangkan wayang golek berasal dari daerah Jawa Barat. Selain itu ada keunikan tersendiri pada pertunjukan kesenian ini karena bisa dikemas secara sederhana. Inilah yang menyebabkan masyarakat Bojonegoro masih bisa menerima adanya kesenian tradisional ini.
Wayang Thengul adalah termasuk dalam seni pakeliran. Pada kelirnya berukuran 8m x 1,75m. perbedaan kelir Wayang Thengul dan Wayang Kulit adalah jika Wayang Thengul di tengah kelirnya terdapat lubang berukuran sekitar 1,5m x 1m. lubang tersebut mempunyai fungsi yaitu agar Wayang Thengul bisa dilihat dari sisi belakang. Sedangkan untuk bentuk fisiknya, Wayang Thengul berbentuk 3 dimensi. Tubuhnya terbuat dari kayu dan tidak mempunyai kaki, hanya mempunyai satu batang kayu agar bisa di tancapkan di debog (batang piang). Ukuran postur tubuhnya 40cm dan besarnya 10cm.  tata busana Wayang Thengul diadaptasi dari cirri khas Bojonegoro dan Arab (Islami). Jika ditinjau dari iringan, Wayang Thengul menggunakan gamelan slendro. Yang dimainkan wiyogo, gerong dan sinden. Gendingnya juga menggunakan gending khas Bojonegoro yang bernama gending Tenggor. Nama gending tersebut sebenarnya adalah nama salah satu desa di Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro. Belum ada sumber yang menjelaskan apakah Wayang Thengul dari desa tersebut atau tidak. Adapula gending yang baku pada Wayang Thengul, gending tersebut bernama waru doyong, serta gending ladrang yang bersifat gending tambahan. Sama halnya dengan ketoprak, Wayang Thengul mengangkat cerita yang diambil dari kisah nyata.  Ada berbagai macam cerita yang biasa dimainkan dalang. Cerita Menak (Amir Hamzah), Majapahit, Demak, Kediri, dan bahkan cerita Wali Sanga, dari mulai Sunan Giri hingga Sunan Kalijaga. Dalam pertunjukan Wayang Thengul zaman sekarang ini, banyak sekali tambahan-tamabahan yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakatnya. Di sela-sela suatu adegan , adapat disisipkan adegan Gecul (banyolan), yang mengungkapkan tentang kabar yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Wayang ini juga dapat disajikan sesederhana mungkin.

Gambar Pertunjukkan Wayang Thengul

Masyarakat Desa Mulyoagung
Desa Mulyoagung adalah desa yang termasuk dalam kecamatan Balen kabupaten Bojonegoro. . Desa ini adalah salah satu desa agraris di kabupaten Bojonegoro. Penghasilan utama dalam bidang pertanian adalah padi. Banyak lahan kosong di daerah ini, sehingga masyarakat memanfaatkan lahan tersebut untuk dijadikan kawasan persawahan. Jadi mata pencaharian masyarakat desa Mulyoagung mayoritas adalah petani. Petani bisa dibagi menjadi petani yang memiliki sawah dan petani yang hanya sebagai buruh. Ada sebagaian yang bekerja sebagai buruh serabutan, dan sedikit yang menjadi pegawai negeri sipil. Menurut data penduduk desa Mulyoagung, usia produktif adalah usia mayoritas di desa ini yaitu antara 18- 45 tahun. Rata- rata penghasilan per bulan masyarakat desa Mulyoagung adalah Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah), hal ini tentu dianggap masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari.
              Jika melihat dari segi pendidikan dan penghasilan, masyarakat disini termasuk masyarakat menengah kebawah, akibatnya masyarakat desa ini hidup dengan sederhana. Dari segi transportasi, masyarakat banyak yang menggunakan sepeda dan sepeda motor, hanya beberapa yang mempunyai mobil pribadi, kecuali pick up dan itu untuk berdagang. Walaupun letaknya yang cukup jauh dari kota, dalam hal sarana komunikasi, masyarakat disini sudah mengenal telepon genggam atau handphone, karena masyarakat desa ini sudah mulai mengenal modernisasi.
              Di dalam masyarakat agraris, dan pasti terletak di daerah pinggiran kota, hiburan merupakan hal yang sangat kurang di dapatkan. Masyarakat hanya mengandalkan televisi atau radio saja untuk sarana hiburan. Hal inilah yang menyebabkan kesenian tradisional masih sangat digemari dan dikembangkan. Menurut Pak Cipto salah satu warga desa Mulyoagung, mengembangkan kesenian tradisional merupakan kewajiban warga desa apalagi kesenian asli Bojonegoro. Warga percaya bahwa kesenian tradisional adalah kesenian tuntunan yang bisa mendidik dan dijadikan contoh, dari segi cerita maupun penokohan. Tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau sarana pendidikan. Namun kesenian tradisional khusunya wayang thengul juga digunakan sebagai mata pencaharian sampingan beberapa warga, yaitu dengan menjadi wiyogo atau membantu pada saat pementasan.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, akan ditemukan bagaimana pendapat antar warga yang kadang kala di pengaruhi oleh pola berpikir individunya, tidak jarang pula hal tersebut bisa mambangun atau bahkan menjadikan jarak antar warga. Komunikasi tetap dilakukan antar warga karena warga percaya komunikasi adalah alat yang cocok digunakan untuk bertukar pikiran, saling beragumentasi dan berdikusi. Entah itu persolan desa, kehidupan sehari- hari atau bahkan pertandingan bola. Pada masyarakat menengah kebawah tidak ditemukan adanya stratifikasi sosial yang menandakan bahwa kehidupan sosialnya dibedakan antara satu warga dengan warga yang lain. Masyarakat desa Mulyoagung ini termasuk dalam masyarakat yang homogen, yaitu mayoritas sama, mereka hidup bersama-sama dan bermasyarakat secara alami.
              Dari segi sosial budaya, masyarakat desa Mulyoagung hidup rukun dan saling gotong royong, hal ini di sebabkan karena masih terjadi saling ketergantungan antar warga. Interaksi sosial sebagai proses pengaruh- mempengaruhi, menghasilkan hubungan tetap yang akhirnya memungkinkan pembentukan struktur sosial (Dr. phil. Astrid S. Susanto, 1979:42). Antar warga masih saling membutuhkan dan membantu. Warga masih memegang teguh cara- cara lama dalam beriteraksi sosial, karena warga desa Mulyoagung masih sedikit yang mengenal modernisasi. Penduduknya masih sangat erat antar tetangga, sistem kekerabatannya juga masih sangat alami atau utun dalam bahasa Jawa. Desa ini memiliki fasilitas yang cukup terbatas, seperti halnya jalan menuju desa ini baru saja dibangun pemerintah setempat dengan bahan paving. Transportasi menuju desa ini pun harus menggunakan kendaraan pribadi atau jalan kaki yang letaknya cukup jauh dari jalan raya. Kegiatan- kegiatan yang dilakukan warga secara bersamaan merupakan kebiasaan warga yang sudah diturunkan dari nenek moyang. kurangnya sarana dan fasilitas adalah salah satu faktor yang menyebabkan warga tetap berpegang pada tradisi lama.
              Dari segi pendidikan, warga desa masih berpikir bahwa pendidikan adalah nomer sekian. Mayoritas pendidikan terakhir masyarakat desa Mulyoagung adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Karena tuntutan ekonomi yang masih tinggi, maka masyarakat masih berpikiran bahwa bekerja adalah hal yang utama. Tentu saja akan semakin berpengaruh terhadap bagaimana pola berpikir masyarakat setempat. Menurut A. Kasim Achmad (2006: 29)

Jenis dan keragaman teater tradisional yang ada di Indonesia, bersumber dari perbedaan budaya sejumlah etnik yang hidup berdampingan serta saling mendukung dan mempengaruhi, sehingga teater tradisional di suatu daerah mempunyai kesamaan dengan lainnya, dengan tetap memiliki kekhasan daerahnya.

Jadi keragaman kesenian tradisional juga di dukung daerahnya. Bagaimana daerah itu memperlakukan kesenian tersebt, dari apresiasi sampai dengan ekspresi. Masyarakat desa Mulyoagung saat ini sudah mulai mengekspresikan bagaimana kesenian tradisional tersebut. Masyarakat mulai belajar bagaimana mengelola pertunjukan sampai pada mengenalkan pada anak- anak dan masyarakat luar desa..
Disadari atau tidak, masyarakat sekarang ini sudah mengalami perubahan atau masyarakat dalam era transformasi, yaitu masyarakat yang berpindah dari masyarakat tradisi menuju masyarakat modern. Masyarakat yang seperti ini bisa mengalami kemunduran dan kemajuan. Jika kemunduran karena di sebabkan faktor cara berpikir dan cara berinteraksi, karena kebanyakan ciri berinteraksi masyarakat yang modern adalah secara individu atau mengandalkan diri sendiri. Akan tetapi kemajuanya adalah cara pandang warga tehadap sesuatu bisa jadi lebih meluas, tidak hanya pada batasan- batasan tertentu.
Tradisi paling mendasar adalah traditum yaitu sesuatu yang diteruskan dari masa lalu ke masa sekarang. Dalam hal ini tentu bisa berupa benda, atau kebiasaan masyarakat. turun temurunya suatu adat dan kebiasaan masyarakat ini di karenakan kepercayaan masyarakat akan leluhur atau nenek moyangnya. Oleh karena itu masyarakat berusaha untuk tetap menjaga dan memelihara keberlangsungan adat tersebut. Banyak alasan kenapa masyarakat tidak meninggalkan kebiasaan- kebiasaan tersebut, misalnya masyarakat belum siap menerima perubahan sosial. Nilai- nilai yang berlaku pada masyarakat tradisional  belum menunjukan sikap terbuka pada perubahan sosial menuju masyarakat modern. Hal ini masih terjadi pada masyarakat desa Mulyoagung. Masyarakat masih membatasi diri terhadap era globalisasi sekarang ini. Masyarakat masih terbatas tentang perkembangan pengetahuan dan teknologinya sehingga tingkat produksinya juga masih sedikit. Masyarakat desa Mulyoagung merupakan masyarakat yang homogen, karena masyarakat di desa ini di besarkan dengan cara yang sama antara satu dengan yang lainnya dalam satu daerah tersebut. Selain karena kesamaan cara berpikir, skalanya juga kecil, contoh kesamaan tersebut misalnya dalam pekerjaan dan hubungan kekerabatan. Sedangkan modernisasi adalah berubahnya cara berpikir masyarakat terhadap sesuatu dari cara berpikir tradisi menuju cara berpikir yang lebih maju. Di Indonesia, pedesaan identik dengan pertanian atau daerah agraria. Perkembangan agraris merupakan salah satu faktor utama pendukung masyarakat pedesaan. Perkembangan pasar mulai mempengaruhi perubahan pada masyarakat desa, hal inilah yang menyebabkan adanya perubahan cara berpikir pada masyarakat pedesaan. Keadaan masyarakat desa Mulyoagung juga mengalami perkembangan dan perubahan. Sedikit banyak masyarakat mulai gengsi  menggunakan cara- cara lama yang diterapkan orang tua dulu. Dari mulai penampilan, alat komunikasi, cara bertutur kata, interaksi sosial, dan lain- lain. Masyarakat meyakini dengan menggunakan gadget dan  mode yang terbaru, maka mereka akan disebut sebagai masyarakat masa kini.
Perubahan sosial pada intinya adalah perubahan cara interaksi sosial yang ada di dalam masyarakat. entah itu interaksi kehidupan berkelompok, dari segi sosiologis atau politik. Tipe masyarakat dengan pola kehidupan seperti inilah yang terkadang masih bisa dikatakan sebagai masyarakat plin-plan. Dalam segi penampilan sebagian masyarakat sudah menganut pola modernisasi, tapi terkadang kebudayaan dan sisi agama yang masih masyarakat pegang dalam menjalankan kehidupan sehari- hari. Hal inilah yang bisa dikatakan masyarakat tersebut maih dalam era masyarakat transformasi.
  Masyarakat desa Mulyoagung merupakan masyarakat yang belum banyak mengenal modernisasi. Akan tetapi sedikit banyak sudah mengalami perubaan sosial dan perubahan masyarakat. hal ini dapat dilihat dari cara berpikir dan penampilan mayoritas warga. Walaupun banyak akibat yang didapat dari perubaha ini, banyak hal positif yang bisa diambil dari perubahan masyarakat ini. Masyarakat desa Mulyoagung adalah masih bersifat lokal membuat cara berpikir individunya masih kedaerahan dan masih sederhana. Masyarakat yang masih berpegang teguh pada cara- cara yang diajarkan secara turun- temurun. Sarana yang digunakan juga masih minim, termasuk sarana pendidikan, khususnya pendidikan kesenian. Masyarakat tidak banyak yang mengenal bagaimana pendidikan seni tersebut. masyarakat hanya mampu menikmati bagaimana kesenian bukan mempelajari. Namun masyarakat Mulyoagung tidak tertutup dalam menerima kebudayaan dari luar.  Banyak kegiatan dalam kehidupan sehari- hari yang mereka adaptasikan dari budaya luar.

Gambar Pedagang di pertunjukkan wayang thengul 

Posisi Wayang Thengul di Desa Mulyoagung
Fungsi kesenian wayang thengul di desa Mulyoagung adalah :
1.      Hiburan
Di kalangan masyarakat modern, hiburan adalah kebutuhan yang cukup penting, karena memang zaman modern ini penuh dengan aktifitas yang mengacu pada profesi atau pekerjaan. Masyarakat modern menganggap bahwa yang membuat tertawa atau fresh adalah merupakan bentuk hiburan. Bagaimana pun juga, drama maupun teater dapat pula dipandang sebagai suatu hiburan. Banyak teater besar yang tampil untuk kesenangan. Drama maupun teater sebagai hiburan atau entertainment merupakan realitas actual di era yang menghidupkan dirinya dengan bentuk hiburan yang memungkinkan drama menjadi bagian dari proses relaksasi dalam kehidupan sekarang ini (Autar Abdillah,2008:92). Sekarang ini, banyak sekali yang beranggapan bahwa teater tradisional adalah sebagai hiburan. Contohnya adalah pada saat hajatan, maka masyarakat Mulyoagung akan nanggap wayang thengul, meski tidak jarang juga ada kesenian modern. Dari kebutuhan masyarakat yang kembali tertarik pada kesenian tradisional, maka seniman-seniman kesenian tradisi sekarang lebih berani menampilkan lagi, tapi kemasan pertunjukannya sudah di modifikasi atau dikembangkan menjadi lebih segar. Percampuran antara tradisional dan modern inilah yang sekarang semarak di kalangan masyarakat.

2.      Ritual
Masyarakat Mulyoagung sampai sekarang ini masih mempertunjukkan wayang thengul ketika desa sedang mempunyai hajatan, contohnya pada acara tingkep pari, wayang thengul menjadi pertunjukkan wajib pada acara ini. Karena lewat cerita wayang thengul, warga bisa belajar tentang bagaimana kehidupan bermasyarakat. Dalam acara tingkep pari, biasanya dalang mengangkat cerita tentang dewi sri, yaitu dewi kesuburan, dengan cerita ini masyarakat yakin akan dengan padi yang akan di panen.
                                                                                                       
3.      Ekspresi
Teater tradisional adalah salah satu bentuk ekspresi manusia zaman dulu. Mereka mengemas dengan banyak bentuk. Dulu  manusia mengekspresikan melalui bentuk yang sangat sederhana, karena memang serba terbatas. Seiring berjalannya waktu, teater tradisional itu mulai dikembangkan dengan fenomena yang sedang hangat di masyarakat. Sampai pada masyarakat modern sekarang, teater tradisonal juga menjadi sesuatu yang baru tapi tetap dikenal sama seperti zaman-zaman sebelumnya. Bentuk, tampilan dan tata teknik pentasnya pun masih sama, hanya saja masyarakat modern menambahkan sesuatu yang baru di dalam kemasan pertunjukkan. Hal ini juga dibuat manusia agar menimbulkan efek- efek psikologi jika manusia tersebut melihat pertunjukkan tersebut. Ekspresi yang seperti ini juga dialami masyarakat desa Mulyoagung. Wayang thengul dinilai berpengaruh pada setiap warga yang menonton, mulai terbawa cerita sampai dengan bisa belajar melalui pesan- pesan yang disampaikan.

4.      Ekonomi
Semakin minatnya masyarakat terhadap kesenian tradisi, maka tidak jarang hal ini mengakibatkan semakin banyak pula seniman-seniman tradisional memanfaatkannya sebagai mata pencaharian. Hal ini dibuktikan minatnya warga untuk menjadi wiyogo atau pemain gamelan, atau menjadi asisten dalang. Walaupun tidak memiliki keahlian khusus, warga mau belajar tentang bagaimana cara memainkan gamelan. Tidak hanya menjadi bagian intern dalam pertunjukkan, warga juga memanfaatkan keramaian desa untuk tempat berjualan. Warga membuka lapak jualan ketika ada pertunjukkan wayang thengul. Hal ini akan menjadi simbiosis mutualisme, karena antara pertunjukkan wayang thengul dan warga akan saling menguntungkan.

Jadi Fungsi awal kesenian wayang thengul adalah selain sebagai hiburan, juga mengganggap wayang thengul adalah kesenian wajib dalam acara- acara khusus yang bersifat ritual. Seperti nyadran, siratan, tingkepan pari dan acara hajatan seperti pernikahan dan sunatan. Seiring perkembangan jaman, kesenian ini digunakan beberapa masyarakat sebagai salah satu mata pencaharian sekunder, yaitu dengan cara menjadi wiyogo, sinden atau membantu pada saat pementasan.
Seiring dengan perkembangan teknologi, pertunjukan kesenian wayang thengul mulai kalah dengan acara- acara yang dikemas secara modern. Seperti acara pengajian, hadrah atau yang lainya. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduknya memeluk agama islam, jadi acara tersebut selain dijadikan hiburan juga dijadikan sebagai media dakwah dalam mempertebal ilmu agama. Para dalang pun tidak ingin kalah, para dalang lebih sering
menggunakan cerita- cerita islami misalnya cerita sunan atau cerita kehidupan masyarakat yang religius. Karena masyarakat bisa menerima kesenian tradisional dan modern, maka sampai saat ini kesenian tradisional dan kesenian modern berjalan secara seimbang di desa ini.

Hubungan Masyarakat Desa Mulyoagung dengan Wayang Thengul
Masyarakat desa Mulyoagung tidak asing mendengar kata wayang thengul, karena kesenian ini memang sudah melekat dengan masyarakat. Menurut Pak Cip salah satu warga desa Mulyoagung yang sekaligus pemerhati kesenian tradisional, wayang thengul adalah salah satu aset kesenian Bojonegoro yang harus di jaga dan di pelihara keaslianya. Desa Mulyoagung adalah salah satu desa yang masih rutin menggelar pertunjukkan wayang thengul. Wayang thengul ini dapat tumbuh dan berkembang karena adanya dukungan dari masyarakat, karena selain sebagai tontonan, wayang juga dapat menjadi tuntunan, pendidikan, bimbingan dan sebagai pedoman dalam kehidupan, khususnya pada masyarakat Jawa. Hal ini diterapkan oleh masyarakat desa Mulyoagung sebagai sarana belajar bagi masyarakat, karena ceritanya yang mengandung banyak unsur dari cerita tentang Jawa dan agama.
Masyarakat desa Mulyoagung merupakan masyarakat yang belum banyak mengenal modernisasi. Akan tetapi sedikit banyak sudah mengalami perubaan sosial dan perubahan masyarakat. hal ini dapat dilihat dari cara berpikir dan penampilan mayoritas warga. Walaupun banyak akibat yang didapat dari perubaha ini, banyak hal positif yang bisa diambil dari perubahan masyarakat ini. Masyarakat desa Mulyoagung adalah masih bersifat lokal membuat cara berpikir individunya masih kedaerahan dan masih sederhana. Masyarakat yang masih berpegang teguh pada cara- cara yang diajarkan secara turun- temurun. Sarana yang digunakan juga masih minim, termasuk sarana pendidikan, khususnya pendidikan kesenian. Masyarakat tidak banyak yang mengenal bagaimana pendidikan seni tersebut. masyarakat hanya mampu menikmati bagaimana kesenian bukan mempelajari. Namun masyarakat Mulyoagung tidak tertutup dalam menerima kebudayaan dari luar.  Banyak kegiatan dalam kehidupan sehari- hari yang mereka adaptasikan dari budaya luar.
              Di dalam perjalanan kesenian tradisional ada masa kejayaan dan masa tenggelam. Hal ini juga dialami oleh kesenian wayang thengul.  Kesenian Wayang thengul sempat memiliki masa keemasan yaitu  sekitar tahun 1950an. Saat itu wayang thengul menjadi salah satu kesenian yang sangat digemari masyarakat. bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan bersama. Salah satu contohnya, saat warga mempunyai hajatan, warga akan nanggap  wayang thengul.
                  Setelah mempunyai masa keemasan, wayang thengul juga mempunyai masa dimana penikmatnya mulai berkurang. Sejak tahun 1970an, wayang thengul menjadi sepi. Tanggapan menjadi sangat berkurang, sehingga banyak dalang wayang thengul yang berpindah menjadi dalang wayang lainya. Banyak cara yang dilakukan para pekerja seni dan dalang- dalang yang masih aktif agar wayang thengul bisa terus berjaya.
              Sekitar tahun 1990an, munculah tari thengul, dimana tari ini adalah bentuk lain dari wayang thengul. Munculnya tari thengul adalah salah satu alasan para seniman agar masyarakat mau kembali menerima wayang thengul sebagai salah satu kesenian asli yang harus tetap dikembangkan. Usaha ini mendapat respon baik dari masyarakat Bojonegoro, karena dengan usaha ini wayang thengul mulai dikenal lagi.
              Sampai tahun 2000an masyarakat semakin mengenal wayang thengul , hal ini merupakan hasil para dalang yang sering mengadakan pentas keliling dari kecamatan ke kecamatan di dalam kabupaten Bojonegoro. Sampai saat ini wayang thengul dikenal sebagai kesenian yang ramah dan terbuka, salah satu contohnya adalah pertunjukan wayang thengul berkolaborasi dengan orkes melayu atau dengan tayub. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian lebih para penikmat wayang thengul agar tidak bosan.
Kecamatan Balen khususnya desa Mulyoagung menemani perjalanan wayang thengul dari masa keemasan sampai pasang surut . sampai sekarang ini masyarakat masih terus menganggap bahwa wayang thengul adalah salah satu kesenian yang paling disukai. Karena bisa dinikmati semua kalangan, dari mulai anak- anak sampai orang tua.


Simpulan
Desa Mulyoagung adalah desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Balen Kabupaten Bojonegoro. Masyarakat disini termasuk dalam masyarakat agraris, kehidupannya masih sederhana. Kehidupan masyarakat ini termasuk dalam kalangan masyarakat menengah ke bawah, hal ini di sebabkan karena penghasilan masyarakat desa yang masih dalam taraf rendah. Selain karena penghsilan yang masih rendah, tingkat pendidikan masyarakat desa ini juga masih dalam kategori rendah, yaitu rata- rata Sekolah Menengah Umum (SMP). Mata pencaharian mayoritas warga adalah sebagai petani. Dalam keseharian warga masih mempercayai adanya ritual- ritual atau mitos yang diajarkan nenek moyang.
Wayang thengul adalah jenis teater tradisional dan masuk dalam teater rakyat. Karena Teater yang dituturkan dengan peragaan- disamping dengan cara diceritakan, juga disertakan peragaan dari cerita yang dihidangkan. Wayang adalah teater tutur dengan peragaan. Sang dalang bercerita sambil memainkan wayang. Peran dalang sebagai pencerita dalam pertunjukan wayang sangat menentukan. Di samping kemahiran bercerita, dalang pun dituntut tampil memainkan wayangnya. Pada awalnya wayang thengul hanya digunakan sebagai hiburan acara ritual warga pada saat acara- acara tertentu seperti manganan, siratan, dan sebagainya. Seiring dengan berjalanya jaman, wayang thengul diadakan pada acara hajatan warga, seperti mantu, sunatan, maleman, dan sebagainya. Perkembangan wayang thengul sangat terlihat jelas. Pada saat jaman keemasan sampai setelah wayang thengul mulai kehilangan peminatnya. Wayang thengul sekarang ini lebih bersifat terbuka, misalnya lebih bisa fleksibel dengan permintaan si penanggap.
Masyarakat desa Mulyoagung sudah menganggap wayang thengul adalah bagian dari kemajuan desa, karena warga percaya bahwa cerita- cerita dari wayang thengul tersebut bisa membangun pemikiran- pemikiran baru tentang kehidupan sehari- hari. n Selain itu wayang thengul dan warga desa membentuk simbiosis mutualisme, yaitu saling menguntungkan. Warga bisa mendapatkan rejeki di pertunjukkan wayang thengul, dan pertunjukkan wayang thengul bisa semakin ramai dengan adanya pedagang- pedagang yang ada di sekitar tempat pertunjukkan.

Saran

Kesenian tradisional yang berasal dari daerah itu sendiri adalah merupakan suatu cerminan dari masyarakatnya, jadi sudah sepantasnya kalau kesenian tersebut dijaga dan dilestarikan. Wayang thengul adalah salah satu kesenian yang bersifat kearifan lokal, oleh karena itu masyarakat Bojonegoro wajib ikut andil dalam pelestariannya. Sampai saat ini masihbelum ada referensi cetak untuk kesenian ini. Seharusnya pemerintahan kabupaten Bojonegoro mengadakan sesuatu hal untuk mendapatkan data- data yang pakem terhadap kesenian wayang thengul tersebut. Penulis merasa masih terjadi simpang siur antara informan satu dengan yang lain, karena para informan mempunyai pendapatnya masing- masing. Hal ini tentu juga dirasakan masyarakat yang ingin tahu tentang sejarah wayang thengul. Penulis berpendapat semua masyarakat Bojonegoro wajib melestarikan kesenian ini.